31/03/11

Katanya Horchata



PERINGATAN! Jangan mencoba minuman ini dengan langkah yang saya ceritakan, belum teruji kebenarannya :)

"Kamu tahu 'ngga, Horchata itu minuman dari Meksiko..."


""Oya?! Hahaha... Aku hanya ambil dari judul lagu, dan suka dengan kata itu, enak dilihat dan diucapkan," saya menerangkan alasannya.

"Kamu bikin gih."

"Ha?! Aku? Hmmm, coba aku tanya ke mbah Google."

Wuzzz! Saya ketik "horchata". Waiyah! Ternyata benar horchata adalah minuman tradisional khas Meksiko, hahaha.

Itulah penggalan percakapan yang mengantarkan saya dengan minuman horchata. Seseorang di ujung sana merespon pengalaman saya dalam membuat panna cotta, dimana makanan manis tersebut saya namai horchata yang ternyata nama sebuah minuman! Hahaha. Jujur, saya tidak pernah tahu minuman itu, benar-benar saya ambil dari judul lagu band Vampire Weekend. Nama minumannya saja baru tahu, apalagi rasanya, mana saya tahu. Tetapi saya tetap terima "tantangan" untuk membuatnya. Hmmm, kalau yang "menantang" itu seorang wanita memang sulit untuk ditolak :)

Lagi-lagi saya bertanya ke mbah Google akan resep dari minuman ini. Wuzzz! Yeah, ternyata tampak mudah, bahan-bahannya pun sangat sederhana. Jadilah kemarin saya membuat Horchata.

30/03/11

Jamie! Jamie! Jamie!


Yeah, Jamie! 

Baru saja saya membeli tiga kitab! Hahaha, melengkapi kitab lain mengenai diri-"Nya". Dialah pahlawan saya, yang menyelamatkan kebosanan dan mengiringi kepulangan saya ke kampung halaman. Perkenalan saya dengan buku masaknya mas Jamie diawali di tahun 2008, ketika saya sama sekali belum tertarik untuk memasak. Lagi-lagi saya membeli buku karena alasan visual.

Jamie at Home: Cook Your Way to the Good Life adalah buku masak pertama Jamie Oliver yang saya beli. Isinya bagus sekali! Banyak resep makanan yang mudah untuk diikuti. Tetapi alasan utama dibelinya buku Jamie at Home karena saya sangat terinspirasi sekali dengan jiwa dari buku tersebut. Dilain kesempatan akan saya ceritakan lebih detail kenapa Jamie at Home sangat kuat pengaruhnya bagi kehidupan saya sekarang.

Kali ini buku yang saya beli berjudul Jamie Does, Jamie's Food Revolution, dan Jamie's 30 Minute Meals. Saya membeli ketiga buku ini di Periplus, Bandung.

Jamie Does merupakan perjalanan memasak Jamie ke negara Spanyol, Itali, Swedia, Moroko, Yunani, dan Prancis. Seperti biasa, foto-foto yang terpampang sangat amazing! Tampilan desainnya sedikit berbeda dengan buku Jamie yang lain. Hmm, lebih "modern" dan "minimalis", namun tetap saja aura fotonya sangat Jamie Oliver sekali. Sangat membumi.

Saya paling tertarik dengan perjalanan masakannya di negara Yunani, dimana di negara itu masakan diperlakukan dengan sangat alami dan sederhana. Masakan dibuat dengan bumbu minimal yang sepertinya disengaja untuk memunculkan cita rasa asli dari bahan-bahan masakan. Tetapi bahan dasar tersebut dimaksimalkan dan "dipaksa" untuk mengeluarkan rasanya.

Selain Yunani, perjalanan Jamie yang menarik bagi saya yaitu Perancis. Elegan, mungkin itu yang bisa saya deskripsikan.

Buku kedua; Jamie's Food Revolution. Secara foto dan desain, buku ini sebenarnya agak sedikit kurang menarik. Tetapi visualnya sangat memudahkan kita untuk mengikuti langkah demi langkah setiap resep makanan yang diberikan. Dan tetap saja resep yang ditawarkan seperti biasa, sangat menarik.

Jamie's Food Revolution merupakan kisah Jamie mengajarkan teman-temanya untuk memasak dengan baik, jujur, penuh perasaan, simpel namun menawan. Tidak salah kalau saja buku ini lebih memperlihatkan langkah-langkah yang mudah untuk dipahami.

Buku ketiga yaitu Jamie's 30 Minute Meals. Sampul mukanya, bagi saya, tidak menarik. Jamie terlihat seperti manusia yang hidup di era '90-an, hahaha. Tetapi beda sampul, beda dalam. Isi dari buku jauh lebih menarik. Foto-fotonya ciamik dengan pemakaian huruf-huruf yang yahud. Buku ini memberikan resep untuk satu santapan makan komplit dari pembuka sampai penutup. Dan hebatnya Jamie "menjanjikan" tiga puluh menit untuk dibuatnya! Hehehe, menarik. Semacam pilihan paket untuk suatu jamuan makan beberapa orang yang dapat dimasak tanpa harus menunggu lama, saya suka sekali idenya.

Ketiga buku kitab ini akan menemani kegemaran saya dalam memasak. Bukan, bukan maksud saya untuk menjadikan saya seorang Jamie Oliver. Mimpi itu sih. Saya hanya terinspirasi dengan kehidupan dan keahlian dia. Dan kalaupun ada yang saya ikuti, kenapa tidak. Segala kebaikan tidak pernah dilarang untuk diikuti kan? 

Nantinya saya akan coba mempraktekan beberapa resep dari ketiga buku ini. Beberapa? Hmmm, bisa jadi malah semuanya, hehehe.

Air Doa



Monin! Mojito Mint. Ini adalah air doa, sebagai "jimat" yang sering melengkapi makanan yang saya masak. Botol sirup ini dibeli akhir tahun yang lalu di sebuah pameran makanan, dimana sebelumnya saya mengenal Monin di beberapa restoran ataupun bar ternama. Bagi saya sirup ini ajaib. Beberapa kali saya bereksperimen minuman, apapun campurannya, jika memakai sirup ini rasanya selalu berhasil. Maka saya jatuh hati dengan Monin. Ada berbagai macam rasa yang diciptakan oleh Monin, namun karena Mojito Mint "cinta pada pandangan pertama" maka rasa ini masih menduduki peringkat teratas dalam pikiran ketika akan membuat sebuah minuman.

Kekuatan Sarapan



Situasinya hampir sama. Pagi-pagi, bangun agak sedikit melenceng dari alarm yang sudah diatur, mandi, agak lama memilih pakaian, cek telepon genggam, buka Twitter, sedikit keasikan lihat-lihat timeline, lalu lirik jam; "Busyet! Telat!".

Hahaha... 

27/03/11

Seratus Satu

Buku ini menjadi salah satu kitab wajib saya dalam memasak. Dibeli setahun yang lalu ketika saya belum benar-benar terjun ke arena dapur. Entah kenapa, sejak dulu saya kadang membeli buku yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ataupun hidup saya, hehehe. Mungkin latar belakang di dunia desain yang membuat saya selalu tertarik dengan "keindahan" atau suatu hal yang sifatnya "enak dipandang".

Saya membeli "101 Things I Learned in Culinary School" di toko buku (ak.'sa.ra) Jakarta. Banyak hal yang dapat dipelajari dalam buku ini. Dari pengetahuan mengenai jenis-jenis pisau dan cara menggunakannya, cara memperlakukan lobster, cara memilih daging sapi yang baik, sampai pengetahuan mengenai mengeringkan bumbu dasar.

Hmmm, sebenarnya sih buku ini lebih mengarah kepada ilmu kinerja seorang koki di dapur sebuah restoran. Agak kurang sesuai dengan alasan kegemaran memasak saya, karena bukan target saya untuk menjadi seorang koki handal, hehehe. Ya tapi semua isi dalam buku ini adalah ilmu bagi saya yang baru mengenal dunia masak-masakan. Lumayan menjadikan saya seperti orang yang baru lulus kuliah dari sekolah kuliner :) 

Kue di Blok Pertokoan



Aha! Kue Balok! Tidak sengaja saya menemukan penjual kue balok ini di sebuah trotoar jalanan Otto Iskandardinata, di pinggir blok-blok pertokoan kota Bandung. Kue balok sering dikatakan sebagai "kue rakyat" karena kesederhanaan bentuk dan rasanya. Sayang saya tidak sempat menanyakan resep akurat untuk membuat kue balok ini. Karena konon meskipun tampak mudah, ada proses "rahasia" dalam pembuatan adonannya.

26/03/11

"Craving for Panna Cotta and Royce' Chocolate"


Kalimat di atas adalah sebuah status yang muncul dalam recent updates BBM saya beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa, tiba-tiba saat itu saya ingin mewujudkan status tersebut. Alasannya? Satu, itu urusan pribadi, hehehe. Kedua, esok harinya (kalau tidak salah) adalah hari ulang tahun si pembuat status.


Mewujudkan sebuah Royce' Chocolate tentu akan sulit dan tidak mungkin, karena itu sebuah merek dagang yang pembuatannya pun mana saya tahu. Sedangkan untuk panna cotta, hmm, meskipun sebenarnya saya tidak tahu cara pembuatannya, tetapi saat itu saya berpikir rasanya panna cotta bukan sebuah makanan manis yang sulit untuk diolah. Sok tahu, ya, saya, hehehe.

Maka, saya pun bertanya kepada tuan Google. Jreng, jreng! Munculah artikel-artikel mengenai pembuatan panna cotta. Dan benar dugaan saya, tidak begitu sulit ternyata. Sombong... hahaha. Lho, silahkan saja dicoba! Saya yakin semua orang akan mudah membuatnya.

Horchata Panna Cotta

Whipping cream
Kacang vanilla (saya baru tahu kalau vanilla itu ternyata kacang! Hahaha...)
Gula pasir
Gelatin
Air mineral
Buah kalengan


Sudah, hanya itu. Sederhana sekali bukan? Baiklah, sebelumnya saya mohon maaf atas kebodohan saya karena tidak mengingat semua takarannya, hahaha. Maaf, seperti halnya melukis, saat ekspresi keluar maka konsentrasinya pun terfokus di karyanya saja, jadi mana sempat mengingat hal-hal lainnya, termasuk si takaran tadi, hahaha. Ya sudahlah namanya juga amatiran, iya 'ndak? Yang jelas panna cotta buatan saya itu tersaji menjadi kurang-lebih untuk 20 porsi. Banyak juga ya, hahaha, maaf itu sama sekali tidak terprediksi.

Ok, saya coba mengingat cara pembuatannya, tapi tanpa takaran, ya :p

Pertama, buka batang kacang vanilla dan korek isinya, lalu masukan ke dalam sebuah panci. Tuang whipping cream dan gula ke panci tersebut. Panaskan. Hmmm, harum, ya, ternyata kacang asli vanilla itu. Lebih alami. Tetapi harganya, gila, 3-4 batang saja kira-kira sekitar Rp. 30.000,- Dalam tahapan permulaan ini saya sudah dihadapkan dengan masalah. Takaran whipping cream dan gula tidak berimbang! Hahaha. Sehingga ketika saya icip, campuran tersebut terasa manis sekali. Maka saya tambahkan air mineral untuk "menghapus" kelebihan si manis. Hahaha, susah untuk membuat rasa manis yang diinginkan. Saya dapat pelajaran berharga, kalau memasukan bahan-bahan itu lebih baik dilakukan secara perlahan dan bertahap. Sedikit demi sedikit saja dulu, jangan seperti tadi, memasukan gula, brek! langsung banyak. Kesalahan fatal! Hahaha...


Selagi memanaskan, campur bubuk gelatin dengan air mineral dalam sebuah wadah. Lagi-lagi saya lupa takarannya, hahaha. 


Setelah campuran whippe cream-gula-kacang vanilla dipanaskan sekitar 15 menit, angkat panci, lalu masukan olahan gelatin. Kemudian aduk secara perlahan dan konsisten.

Disini saya bertemu kembali dengan masalah. Ternyata kacang vanilla tersebut meninggalkan "kotoran" berbentuk bintik-bintik kecil. Bagi saya kurang sedap dipandang. Maka saya saring saja si campuran tersebut.


Setelah disaring dan cukup tidak panas, tuang campuran tersebut ke dalam wadah-wadah kecil. Saya memasukannya ke wadah puding dan ke dalam kontainer kecil Lock and Lock. Lalu masukan ke dalam lemari es. Ingat, jangan menyimpannya di bagian freezer.



Tunggu kurang-lebih satu jam untuk sampai cairan panna cotta "mengeras" di lemari es.

Sambil menunggu, saya manfaatkan waktunya untuk membuat saus. Waktu itu saya memilih saus karamel yang dibuat sendiri dengan memanaskan gula pasir dalam sebuah panci. Pembuatan karamel ternyata sulit sekali, hampir lima kali saya mengulangnya. Takarannya harus klop antara gula pasir dan sedikit air mineral. Kalau tidak klop, malah jadi gulali, hehehe.

Setelah bersusah-payah, akhirnya dapat juga cairan karamel yang diinginkan. Tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer.

Lalu saya periksa lemari es. Wow! Sudah membentuk! Saya ambil. Sat, sat, sattt! Dipindahkan ke piring, diguyur saus karamel, tambahkan cranberry, tambahkan garnish. Tarraaa... Horchata Panna Cotta pun jadi!

Coba perhatikan bintik-bintik hitam di atas! Itulah serpihan biji kacang vanilla. Amatiran!
Tenyata rasanya wuenak bangeud! Serius saya, ini bukan mau promosi. Asli enak! Saya merasakan panna cotta ini sesuai dengan kemauan lidah saya. Tetapi ini tidak saya duga sama sekali, hahaha. Manisnya "lembut". Kekenyalannya pun tidak berlebih. Untung saya masukan gelatin secara bertahap, belajar dari pengalaman si gula pasir, hehehe. Disini saya dapat pelajaran kembali, bahwa memang sudah seharusnya si panna cotta itu tidak terlalu manis. Biarkan rasa manis lainnya diberi dari saus atau taburan pelengkap si panna cotta nya saja. Saya berpikirnya harus bagi-bagi peranan, biar rasanya tidak lebay. Ini hanya keburuntungan saya saja sih. Sebuah kebetulan bisa membuat panna cotta sesuai dengan selera.

Singkat cerita, saya sampaikan bahwa panna cotta yang didedikasikan untuk hadiah ulang tahun si pembuat status itu, telah berhasil dibuat. Dan (tadinya) akan saya bawa ketika bertemu dengan dia di jamuan makan malam sekaligus merayakan hari ulang tahunnya. Namun cerita harus berubah. Singkatnya lagi, saya tidak jadi mempersembahkan panna cotta itu untuknya. Well, itulah hidup, penuh kejutan. Kecewa? Pasti. Ya, tetapi mau bagaimana lagi, hehehe... At least I was able to make panna cotta. Horchata Panna Cotta, saya namai itu saja. Saya ambil dari lirik sebuah lagu band kesukaan saya, Vampire Weekend.

Untuk yang ulang tahun, thanks for the inspiration-nya ya :)

24/03/11

Semua Bermula Dari Sini


Semuanya bermula dari sebuah piknik di tepi danau yang terjadi pada akhir bulan Februari yang lalu. Ide piknik tersebut muncul begitu saja dalam sebuah obrolan selepas menonton konser Duncan Sheik, di Hard Rock Cafe Jakarta. Saya bercerita bahwa saya sekarang mempunyai kegemaran baru, yaitu memasak. Tanpa bermaksud apa-apa, saya ceritakan saja semua kebodohan dalam memasak dan ketidak-sengajaan saya ketika akhirnya bisa membuat suatu masakan.

Singkat cerita, saya ditodong untuk memasak. Saya katakan, "Siapa takut?", maka terciptalah sebuah hutang dan beban dalam pundak saya kala itu. Beban? Ya, beban. Bagaimana tidak, saya hanya pemula dalam urusan memasak. Amatiran, kelasnya pun ikan teri. Ya, tapi siapa yang berani "mundur" ya ketika semuanya itu terjadi di hadapan dua orang perempuan. Gengsi dong kalau mundur, hehehe.

Dan rencana pun terjadi. Piknik! Saya memilih danau Cileunca di Pangalengan, daerah Bandung Selatan.


Awal  dari perjalanan piknik sebenarnya menyimpan suatu hal yang kurang menyenangkan, karena di luar rencana semua orang yang ikut (enam orang, belum termasuk saya) datang dengan sangat terlambat. Ini sangat membuat mood saya turun. Jelas saja, karena saya tahu lumayan membutuhkan waktu lama untuk menuju danau Cileunca, dan saat itu cuaca sedang tidak menentu. Kekhawatiran saya pun terjadi, perjalanan kami diiringi hujan. Dan sesampainya disana, suasana sudah mulai gelap. Ya apa boleh buat, the show must go on.


Maka saya pun melupakan hal yang tidak menyenangkan tersebut. Saat itu saya hanya ingin konsentrasi supaya semua rencana masakan saya bisa terwujud dengan baik. Adapun sajian makanan yang saya masak adalah; Sop Tomat Iga Kacang Merah, Bakakak Ayam (dengan home made butter), Pepes Udang Asap Bumbu Merah, Daging Sirloin Bumbu Rajang, Nasi Liwet Asin Peda, dan Cah Kangkung. Dilengkapi minuman Stroberi Mint.

Sayangnya semua peristiwa tersebut tidak didokumentasikan dengan baik. Pun ada yang membawa kamera, tetapi tidak terpakai secara maksimal karena si empunya ikut membantu saya memasak.

Piknik sambil memasak berlangsung hingga larut malam, dalam kegelapan! Hahaha... Ya, saya masak dalam kegelapan, yang hanya ditemani obor dadakan serta lampu senter. Dan benar saja, masakan saya sedikit terganggu dengan keadaan itu. Daging sirloin yang saya bakar tidak terolah dengan baik. Namun ya sudahlah, toh sebagian masakan saya itu katanya enak. Puji Tuhan, semua teman-teman saya bisa menikmatinya.



Berselang lama dari peristiwa itu, saya menjadi berpikiran; "Kenapa tidak untuk terus mengembangkan dan belajar akan kegemaran baru saya ini, memasak". Maka, disini, di blog ini, saya ingin menyimpan catatan. Menyimpan momentum, menyimpan cerita dan kisah yang mungkin bisa berguna untuk siapa saja termasuk saya sendiri atau bahkan, kelak, anak saya bisa membaca catatan saya ini. Ya, siapa tahu ini bisa menjadi sesuatu yang membanggakan bagi anak saya.

Kedepannya, dalam semua hubungan dengan masakan-makanan dan apapun yang berhubungan dengan "isi perut", saya akan mengabadikannya disini. Berbagi, ya setidaknya itu bisa menjadi alasan lain dari catatan ini :)