26/03/11

"Craving for Panna Cotta and Royce' Chocolate"


Kalimat di atas adalah sebuah status yang muncul dalam recent updates BBM saya beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa, tiba-tiba saat itu saya ingin mewujudkan status tersebut. Alasannya? Satu, itu urusan pribadi, hehehe. Kedua, esok harinya (kalau tidak salah) adalah hari ulang tahun si pembuat status.


Mewujudkan sebuah Royce' Chocolate tentu akan sulit dan tidak mungkin, karena itu sebuah merek dagang yang pembuatannya pun mana saya tahu. Sedangkan untuk panna cotta, hmm, meskipun sebenarnya saya tidak tahu cara pembuatannya, tetapi saat itu saya berpikir rasanya panna cotta bukan sebuah makanan manis yang sulit untuk diolah. Sok tahu, ya, saya, hehehe.

Maka, saya pun bertanya kepada tuan Google. Jreng, jreng! Munculah artikel-artikel mengenai pembuatan panna cotta. Dan benar dugaan saya, tidak begitu sulit ternyata. Sombong... hahaha. Lho, silahkan saja dicoba! Saya yakin semua orang akan mudah membuatnya.

Horchata Panna Cotta

Whipping cream
Kacang vanilla (saya baru tahu kalau vanilla itu ternyata kacang! Hahaha...)
Gula pasir
Gelatin
Air mineral
Buah kalengan


Sudah, hanya itu. Sederhana sekali bukan? Baiklah, sebelumnya saya mohon maaf atas kebodohan saya karena tidak mengingat semua takarannya, hahaha. Maaf, seperti halnya melukis, saat ekspresi keluar maka konsentrasinya pun terfokus di karyanya saja, jadi mana sempat mengingat hal-hal lainnya, termasuk si takaran tadi, hahaha. Ya sudahlah namanya juga amatiran, iya 'ndak? Yang jelas panna cotta buatan saya itu tersaji menjadi kurang-lebih untuk 20 porsi. Banyak juga ya, hahaha, maaf itu sama sekali tidak terprediksi.

Ok, saya coba mengingat cara pembuatannya, tapi tanpa takaran, ya :p

Pertama, buka batang kacang vanilla dan korek isinya, lalu masukan ke dalam sebuah panci. Tuang whipping cream dan gula ke panci tersebut. Panaskan. Hmmm, harum, ya, ternyata kacang asli vanilla itu. Lebih alami. Tetapi harganya, gila, 3-4 batang saja kira-kira sekitar Rp. 30.000,- Dalam tahapan permulaan ini saya sudah dihadapkan dengan masalah. Takaran whipping cream dan gula tidak berimbang! Hahaha. Sehingga ketika saya icip, campuran tersebut terasa manis sekali. Maka saya tambahkan air mineral untuk "menghapus" kelebihan si manis. Hahaha, susah untuk membuat rasa manis yang diinginkan. Saya dapat pelajaran berharga, kalau memasukan bahan-bahan itu lebih baik dilakukan secara perlahan dan bertahap. Sedikit demi sedikit saja dulu, jangan seperti tadi, memasukan gula, brek! langsung banyak. Kesalahan fatal! Hahaha...


Selagi memanaskan, campur bubuk gelatin dengan air mineral dalam sebuah wadah. Lagi-lagi saya lupa takarannya, hahaha. 


Setelah campuran whippe cream-gula-kacang vanilla dipanaskan sekitar 15 menit, angkat panci, lalu masukan olahan gelatin. Kemudian aduk secara perlahan dan konsisten.

Disini saya bertemu kembali dengan masalah. Ternyata kacang vanilla tersebut meninggalkan "kotoran" berbentuk bintik-bintik kecil. Bagi saya kurang sedap dipandang. Maka saya saring saja si campuran tersebut.


Setelah disaring dan cukup tidak panas, tuang campuran tersebut ke dalam wadah-wadah kecil. Saya memasukannya ke wadah puding dan ke dalam kontainer kecil Lock and Lock. Lalu masukan ke dalam lemari es. Ingat, jangan menyimpannya di bagian freezer.



Tunggu kurang-lebih satu jam untuk sampai cairan panna cotta "mengeras" di lemari es.

Sambil menunggu, saya manfaatkan waktunya untuk membuat saus. Waktu itu saya memilih saus karamel yang dibuat sendiri dengan memanaskan gula pasir dalam sebuah panci. Pembuatan karamel ternyata sulit sekali, hampir lima kali saya mengulangnya. Takarannya harus klop antara gula pasir dan sedikit air mineral. Kalau tidak klop, malah jadi gulali, hehehe.

Setelah bersusah-payah, akhirnya dapat juga cairan karamel yang diinginkan. Tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer.

Lalu saya periksa lemari es. Wow! Sudah membentuk! Saya ambil. Sat, sat, sattt! Dipindahkan ke piring, diguyur saus karamel, tambahkan cranberry, tambahkan garnish. Tarraaa... Horchata Panna Cotta pun jadi!

Coba perhatikan bintik-bintik hitam di atas! Itulah serpihan biji kacang vanilla. Amatiran!
Tenyata rasanya wuenak bangeud! Serius saya, ini bukan mau promosi. Asli enak! Saya merasakan panna cotta ini sesuai dengan kemauan lidah saya. Tetapi ini tidak saya duga sama sekali, hahaha. Manisnya "lembut". Kekenyalannya pun tidak berlebih. Untung saya masukan gelatin secara bertahap, belajar dari pengalaman si gula pasir, hehehe. Disini saya dapat pelajaran kembali, bahwa memang sudah seharusnya si panna cotta itu tidak terlalu manis. Biarkan rasa manis lainnya diberi dari saus atau taburan pelengkap si panna cotta nya saja. Saya berpikirnya harus bagi-bagi peranan, biar rasanya tidak lebay. Ini hanya keburuntungan saya saja sih. Sebuah kebetulan bisa membuat panna cotta sesuai dengan selera.

Singkat cerita, saya sampaikan bahwa panna cotta yang didedikasikan untuk hadiah ulang tahun si pembuat status itu, telah berhasil dibuat. Dan (tadinya) akan saya bawa ketika bertemu dengan dia di jamuan makan malam sekaligus merayakan hari ulang tahunnya. Namun cerita harus berubah. Singkatnya lagi, saya tidak jadi mempersembahkan panna cotta itu untuknya. Well, itulah hidup, penuh kejutan. Kecewa? Pasti. Ya, tetapi mau bagaimana lagi, hehehe... At least I was able to make panna cotta. Horchata Panna Cotta, saya namai itu saja. Saya ambil dari lirik sebuah lagu band kesukaan saya, Vampire Weekend.

Untuk yang ulang tahun, thanks for the inspiration-nya ya :)