16/10/15

After Lunch at Loewy

With Aimee Saras.


“WHO THE HELL IS AIMEE SARAS?!” my partner asked (or precisely shouted) to me, which he finished by a remark, “even the name alone I’ve never heard of.” That was a piece of a story when I was preparing the re-opening Sixteen Denim Scale flagstore at PVJ Bandung, 2014.

Indeed, most people barely knew this attractive woman. And perhaps only a few people who memorized Aimee as one of the hosts in English TV program in one of the national TV channel.

“I want to host English program. But at the end, Indonesian TV programs usually required to be funny. Well, with my character like this, I need something more related with, though it doesn’t have to be affiliated with my image right now,” so she said when I asked why she rarely appears on TV nowadays.

“It is true that my educational background is media. It’s been my long-lost obsession to have a career in broadcasting industry. I’ve been in love with music and burbling since back then. My kind of work that could be still seen to be fit and relatable to what I’m to do. I want to take broadcasting. How I love writing, I love in front of the camera, and that is important I like to talk.”

That was the beginning of my conversation with Aimee, when we met again in a restaurant around Mega Kuningan, Jakarta, a year after I had invited her to Bandung.

15/10/15

A Cup of Ice Tea with Widi Puradiredja

Talk about synthesizer and his collections.


HIS PASSION ON SYNTHESIZER isn’t merely for the reason of its significance in today’s music. When he was listening Michael Jackson and Stevie Wonder (specifically in their early music careers), Widi Puradiredja, now 33 years old, has been also capturing weird unfamiliar sounds on their music. Now dozens of collections has filled his studio and warehouse in Bintaro, Jakarta. Accompanied with Sweet Iced Tea and a pack of cigarettes, I was having a casual talk with Widi about synthesiser.

28/09/15

Sunday Family Brunch di The Trans Luxury Hotel

Menikmati akhir pekan dengan santapan dan kehangatan.


TIDAK ADA HAL YANG PALING MENYENANGKAN selain bersuka-cita dengan keluarga di penghujung minggu. Melupakan sementara diet untuk membiarkan perut bergelora. Barbeque corner, chocolate table, sudut pencuci mulut, aneka pasta, segala macam mi, buah-buahan, dan lapak dim sum. Ditemani suasana nyaman dan pelayanan yang maksimal membuat hari menjadi istimewa.

Dibawah kendali chef Nalendra, semua sajian The Restaurant menjadi menggiurkan untuk disantap. Saya kenal beliau ketika masih menjadi head chef restaurant and lounge The 18th di hotel yang sama. Minggu itu deretan hidangan dapat dinikmati sepuasnya hanya dengan Rp. 299.000 per orang dewasa dan Rp.150.000 untuk anak dibawah umur12 tahun. Perhitungan sangat mudah. Brunch merupakan penggabungan makan pagi dan makan siang. Jadi, cukup terjangkau bukan?

26/09/15

Namaaz by Adrian Ishak

It's fun dining!



MY ARRIVAL ON THIS RESTAURANT WITH NO SIGN SYSTEM was welcomed by “Mbah Dukun” song by Alam, one of the phenomenal dangdut singer. I guess I was mistaken the place with some dimly lit tavern.

Apparently I was coming to the right place: Namaaz by Adrian Ishak. That night, the gloomy atmosphere indeed filled the place. The rain has fallen to the streets around Kebayoran Baru. I came to this place with my big curiosity; It’s not the first time I tasted dishes with molecular gastronomy technique. But this was my first experience enjoying Indonesian  dishes with that technique.

IDR 1,155,000 - That was the price you have to pay for 17 dishes with “Street Food” theme that night. Rujak Semangka, Kerak Telor, Ayam Bakar, Sate Padang, Pangsit Kuah, Kue Cubit, Es Podeng, and so on, served on the table with very different appearances.

Ayam Bakar served with burn paper flakes, Cireng Bumbu Rujak seems like Churros, but the taste remained the same with the real one. “What you see is not what you get,” one of the sous chefs said. That’s true, but I couldn’t get any higher level of flavors from that. All dishes served in small portions. My stomach was nearly full when I ate Soto Betawi with beautiful presentation on the fourth main course.

Self-Portrait



···

Bloomberg Businessweek Indonesia

 Mengenai Open Table.



Mas Lukman dan Mas Ipin telah menjalankan Open Table sejak 2012, di mana Open Table No.1 berlangsung dalam gelaran Keuken 3. Bagaimana Mas Lukman dan Mas Ipin memulainya ketika itu?
L: Seingat saya ide untuk membuat pop-up restoran datang begitu saja ketika kita berdua saling tahu saya dan Ipin doyan masak. Justru nama Open Table itu muncul sebelum tercetus hasil akhirnya menjadi sebuah pop-up restaurant. Yang jelas ide masak bersama untuk dinikmati ramai-ramai dengan teman dan kerabat menjadi suatu kebiasaan yang sering kita lakukan masing-masing. Mungkin kebiasaan itu yang tanpa sengaja mengarahkan kami untuk membuat sebuah pop-up restaurant.
I: Kalo saya, doyan masak karena terpaksa dulunya, jaman SMA dan kuliah  saya tinggal dengan nenek saya almarhum. Karena beliau waktu itu ngga ada laki-laki di rumahnya, makanya saya yang tinggal dengan beliau, nah sebenarnya dimulai dari craving- craving makanan kalo lagi bikin tugas malam-malam, ga mungkin kan saya bangunin nenek saya cuman buat bikinin makanan buat cucunya yang rakus ini, jadinya lari ke dapur dan masak, kalo open table sendiri, saya ingat awalnya dulu ketika ga sengaja ketemu Lukman di Vanilla restaurant di Bandung, terus sharing tentang passion kedua kita yaitu memasak, saat itu juga kita putuskan buat bikin Open Table, cukup singkat sih memutuskan itu. Mungkin karena nyambung dan cita-cita kita sama, yaitu ngumpulin orang terus masak-masak biar orang seneng.

Berhubungan dengan pertanyaan sebelumnya, pada 2012, konsep pop up restaurant dapat dikatakan baru untuk orang Indonesia. Dari mana asal ide untuk menggunakan konsep ini?
L: Itu tadi, ide tersebut datang begitu saja dengan sendirinya. Terus terang pertama kami memasak di acara perdana agak sedikit nekat dan entah kenapa kalau dipikir lagi itu termasuk keputusan berani bagi saya pribadi, hahaha. Bayangkan, who the hell are we?! Chef bukan, restaurateur pun bukan, tapi berani-beraninya menyuruh orang bayar sejumlah uang untuk sebuah masakan yang mereka pun tidak tahu akan makan apa, hahaha! Dan terus terang kami kaget juga ketika banyak yang bilang ini konsep baru bagi orang Indonesia. Karena kami tidak memikirkan hal tersebut sih ya, ini lebih ke salah satu bentuk ekspresi berkarya kami, tidak lebih dari itu.
I: Saya juga bertanya-tanya sih, kenapa kita bisa bikin si pop-up restaurant ini, keputusan yang cukup nekat sebenarnya memulai ini dengan konsep yang bener-bener baru di orang-orang Bandung kala itu. Apalagi kita orang yang bener-bener baru dalam industri kuliner yang penuh gejolak ini hehe. Terlepas dari semua dugaan banyak orang tentang gimana kita bisa bikin konsep ini, kalau saya sih sebenernya selalu berpikiran kalau dunia desain lah yang membawa kita ke arah sini, dunia kuliner boleh sama tapi konsepnya harus berbeda, seperti kata Lukman tadi ini lah bentuk ekspresi berkarya kami.


Mi Celor Palembang

Mi Itali selera sungai Musi.

BEBERAPA TAHUN YANG LALU, untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di daratan Bumi Sriwijaya, Palembang. Saya lupa apa gerangan maksud kedatangan saya di kota tertua Indonesia tersebut. Entah perjalanan bisnis atau sekedar mengunjungi saudara, saya lupa. Lupa karena sudah lama, dan menganggap perjalanan tersebut tidak terlalu istimewa.

Namun, ada satu yang membuat saya tidak akan pernah lupa. Tidak lain tidak bukan; Mi Celor! Betapa memikatnya makanan tersebut hingga membuat saya sampai saat ini masih bisa terus menyimpan kenangan akan kelezatnya, kenikmatannya, dan rasanya yang nempel terus dalam rongga kerongkongan dan pemikiran. Memikat setelah makanan ini disikat, karena jika melihat tampilannya; sungguh sangat sederhana.


Mi celor merupakan hidangan mie dan taoge yang disajikan di dalam campuran kuah santan dengan kaldu ebi. Biasanya disajikan dengan irisan telur rebus dan taburan potongan udang. Konon, disebut mi celor karena proses masak mi dan taoge-nya dicelor atau pengertiannya dicelup-celup, pada air panas.

Kalau tidak salah saya membayangkan, saat itu sedang hujan rintik-rintik, udara Palembang tidak seperti biasanya orang bilang. Sedikit banyak angin berhembus. Dingin. Menapaki jalanan gang yang hanya bisa dilalui motor, saya melangkah ke sebuah warung di daerah pasar pemukiman padat penduduk. Katanya disana ada warung yang tersohor; Mi Celor 26 Ilir.

24/06/15

Kembali Lagi Hotel Novotel Jika Harus Berada di Bogor



Ketika toiletry menjadi obat kenyamanan menggantikan pelayananan.

TERUS TERANG KOTA BOGOR tidak pernah menjadi pilihan untuk dikunjungi. Apa, ya, yang menyebabkan demikian? Karena kotanya seputaran itu-itu saja? Karena kesemrawutan-nya? Apa karena tidak-teraturnya segala hal yang ada di kota tersebut? Jika memang bisa, saya selalu menghindari untuk berkunjung ke kota Bogor. 

Minggu 7 Juni 2015 yang lalu saya terpaksa harus singgah di Bogor untuk bisa pergi dengan cepat ke Taman Safari Indonesia di Cisaura, ke-esok-an harinya. Tidak ada pilihan lain ketika harus menginap di Bogor, selain Novotel Bogor Golf Resort & Convention Centre.

Keberadaan Novotel yang sangat jauh dari kegaduhan kota, menjadi alasan utama untuk menginap di hotel yang sudah lama berdiri tersebut. Kesan tua sudah dipastikan langsung tertangkap, meskipun tampak ada beberapa usaha untuk menyegarkan suasana. Serasa di hotel tua di Bali, kata istri.


Ya sudah, terkadang kita harus memaklumi keadaan. Bisnis hospitality itu bukan perkara yang mudah dimengerti untuk bisa bertahan lama. Apalagi jika hotel jauh dari mana-mana. Ongkos kerja per harinya akan sangat berat jika hotel tersebut hanya ramai di akhir pekan dan hari-hari libur. 

Hotel Novotel Bogor ini bagi saya dari dulu sangat kekeluargaan sekali suasananya. Memang cocok untuk leyeh-leyeh sepanjang hari di semua sudut hotel. Taman-tamannya yang luas, cafe nya yang nyaman, udaranya yang asri. Namun sayang, hal tersebut tidak dibarengi oleh sikap hangat kekeluargaan sebagian staf hotel yang kala itu bertugas (terutama yang di tempatkan di bagian depan). Mereka tampak selalu tertunduk, bukan sebagai tanda hormat kepada tamu, tapi asik tertunduk ngotak-ngatik telepon genggamnya. Mungkin saya kolot, tidak senang dengan kelakuan manusia modern seperti itu. 

Lagi-lagi ini saya harus memakluminya. Maklum, para staf hotel juga harus terlihat tidak ketinggalan zaman.