28/08/17

Prasangka


· · ·

Mengkudu tidak seperti manusia dalam urusan rupa.


Banyak ditemui manusia tua yang masih rupawan. Masih memikat perhatian. Lekuk wajahnya, karakternya, kekenyalan tekstur kulitnya. Tak ada kerutan di muka, mengeluarkan aura yang masih sedap dipandang. Awet muda, orang sering bilang orang tua yang seperti itu.


Berbeda dengan mengkudu. Hampir semua keelokan di masa mudanya tak terlihat lagi kala buah ini lanjut usia. Mengkudu tua tak pernah ada yang rupawan. Mereka jadi peot, putih-pucat. Kusam, dengan banyak bintik kecoklatan. Tak ada menariknya sama sekali. Baunya pun menyengat. Tidak biasa. Seperti bau jengkol atau pete, punya karakter khusus, yang tak semua orang terbiasa menciumnya. Seperti pesing tapi ada sengatan segar bagi saya ketika menghirup permukaan kulitnya. 

Mengkudu tua tidak akan ada yang molek dan berkulit kencang. Buah tengik ini, mengingatkan saya akan Ayah. 

19/08/17

Roti Selai


O l e h - o l e h   d a r i   D u n k i r k

· · ·


CREDIT: GETTY

MENCEKAM. SEPANJANG PERJALANAN Dunkrik, saya dan istri berusaha sekuat tenaga melawan keinginan bicara, untuk berkomentar. Kami dibuat duduk dalam diam, untuk memperhatikan. Mungkin hanya “Argh!”dan “Gila!” yang terucap terus-menerus keluar dari mulut. Christopher Nolan mampu mempertahankan ketegangan dramatis alur cerita.

Tepuk tangan dari kami, untuk Dunkrik. Sebuah film fiksi yang dibuat dari peristiwa nyata pada akhir Mei dan awal Juni 1940 di Dunrik, pesisir Prancis. Cerita potongan sejarah yang gelap ditampilkan dengan sangat berkilau. Emosional. Menyentuh perasaan; mengharukan. Beberapa kali, aliran mata menghiasi wajah kami berdua. Keindahan visual yang sepi. Bisu. tak tergesa-gesa; tenang; santai, namun memicu deg-deg-an dengan menawan.

Dunkirk adalah tentang penderitaan dan keberanian. Tentang individu yang kurang peduli diri mereka sendiri demi kebaikan yang lebih besar. Mereka merindukan pulang. Ke rumah. Ke dalam kenyamanannya. Untuk terus hidup. Dan menjalankan kembali kehidupannya.

12/08/17

Mengungkep, Bukan Mengumpat




“Beli satu ekor ayam pejantan hidup ukuran besar, minta potong menjadi delapan bagian. Ambil bagian dalamnya juga, pap. Ati, usus, ampela. Jangan lupa cekernya diminta. Atau beli lebih banyak cekernya deh. Ragasastra doyan soalnya. Sampai rumah, bersihkan. Lumuri dengan perasan air lemon supaya tidak amis. Diamkan selama lima belas menit, cuci kembali.”

07/08/17

Menghayati Tumbuhan



Tuhan menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa bentuk dan warnanya dan tak serupa rasanya. Dia menyuruh untuk memakan buahnya apabila tumbuhan berbuah. Dengan kehendak-Nya juga manusia dihidupkan. Diberikan-Nya alam, beserta isi yang berlimpah. Supaya bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh kita, manusia. Umat-Nya.

Tumbuhan menjadi materi dasar bagi terjadinya kehidupan di bumi. Tumbuhan hanya ditemukan di bumi yang mempunyai cadangan air. Tumbuhan diturunkan ke bumi untuk keuntungan manusia dan hewan. Dia menciptakan tumbuhan sebagai sumber makanan bagi makhluk hidup-Nya.

31/07/17

Memaknai Air



Dari langit, Dia turunkan air yang memberi berkah, lalu ditumbuhkanlah dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. Maka di keluarkan-Nya tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Di keluarkan-Nya dari tanaman yang menghijau itu butiran yang melimpah. Kita sebagai makhluk hidup saangat memerlukan juga unsur organik ini. Supayqa tubuh dapat menjalanan tugas dan fungsi alaminya sebagai manusia. 

29/07/17

Membekali Ragasastra



Kaget dan kecewa rasanya membaca paparan Tempo minggu ini. Yohanes Surya menghiasi lembaran liputan khusus kriminalitas. Dia dituding menyebarkan KTA bekedok beasiswa dan student loan kepada ratusan orang tua siswa Universitas Surya.

Angan-angan pak Surya menjadikan universitasnya sebagai kampus besar seperti Harvard University mungkin kini hanya mimpi yang mati. Ternyata, dari dua tahun beroperasi, STKIP Surya sudah berjalan lunglai. Kepintaran ilmu fisika dan visi-ambisi Yohanes Surya tak dibandingi dengan cara dia berstrategi. Secara bisnis dan keuangan yang dikelola.

Pak Surya mungkin lupa, kepintaran yang dia miliki tidak dibekali dengan pengalaman kerja sebagai pengusaha, bukan hanya "pembicara". Mungkin ini yang selalu di ingatkan orang tua kita. Ilmu sekolah tak pernah sama dengan realita, dunia kerja. 

27/07/17

Menerima Keadaan



Mujair tak pernah datang dengan ajakan. Menghubunginya, mengharapkannya, sekaligus mempersilahkan berenang leluasa di sebuah  kolam, sama sekali bukan agenda resmi sebagian orang. Ikan ini datang dengan tiba-tiba dan mudah terdeteksi di sudut-sudut kolam, saat kebanyakan mereka masih berwujud anak-anak. Bukan satu, tapi bergerombol. 

Dan mungkin segerombolan anak di suatu sudut hanya berasal dari satu mulut induk. Karena, dia—satu mujair betina—mampu menampung lima puluhan butir telur untuk mengeraminya. Sampai bisa berkali-kali. Tak terbayang, misalnya, ada lima betina, berapa banyak bayi munjair yang akan tumbuh-kembang. Beranjak dewasa, dalam satu kolam air tawar.

20/07/17

Pagi di Bulan Juli



"Saya ingat suasananya, akrab. Empat sampai lima tungku dikerubuti oleh belasan orang yang setia menunggu serabi pesanannya. Asap tembakau, seruputan kopi, gelak tawa, beringingan membuat ritme suara kehidupan pagi sambil disisipi letupan suara kayu bakar. Sementara si emak penjual selalu asik konsentrasi membuat serabi yang hanya mempunyai tiga ragam variasi: polos, oncom, dan yang 'termewah' yaitu: memakai telur. Begitu sederhana. Masih saya ingat kenangan itu." 

Lima tahun yang lalu saya ungkapkan perasaan tersebut, kala menuliskan resep sarapan di catatan Pagi Hari Dengan Serabi.