18/05/12

Pagi Hari Dengan Serabi



Pagi yang dingin di tempat tinggal sekarang, selalu mengingatkan saya akan sebuah kenangandulu, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, ketika saya hidup di sebuah desa daerah Ciamisketika saya diurus nenek-kakek. Udara pagi yang menusuk selalu menimbulkan keinginan untuk mengawali hari dengan sarapan sesuatu yang panas ataupun hangat. Tak jarang, nongkrong di depan tungku (kayu) tetangga penjual serabi, menjadi rutinitas yang lumayan sering saya lakukan kala itu.


Saya ingat suasananya, akrab. Empat sampai lima tungku dikerubuti oleh belasan orang yang setia menunggu serabi pesanannya. Asap tembakau, seruputan kopi, gelak tawa, beringingan membuat ritme suara kehidupan pagi sambil disisipi letupan suara kayu bakar. Sementara si emak penjual selalu asik konsentrasi membuat serabi yang hanya mempunyai tiga ragam variasi: polos, oncom, dan yang “termewah” yaitu: memakai telur. Begitu sederhana. Masih saya ingat kenangan itu.

Kini, agak susah bagi saya untuk menciptakan kenangan itu hadir kembali. Meskipun suasana pedesaan masih didapat, tetapi sampai saat ini saya tidak menemukan suasana di sekitar tungku pembuatan serabi itu. Gelap, penuh kepulan asap pekat, hangat dan nyaman. Sedangkan untuk mendapatkan serabi, dari tempat tinggal sekarang saya harus menempuh perjalanan yang cukup lama menuju kaki gunung dimana serabi yang serupa biasa dijual.

Di kota, ternyata masih ada beberapa titik-titik “tersembunyi” yang menjual serabi kampung, walaupun dengan memakai teknik yang sudah tidak tradisional lagi. Biasanya serabi-serabi itu dibuat dengan menggunakan api dari kompor dan memakai cetakan besi, bukan dengan cetakan tanah liat. Keberadaannya cukup menghibur dan mengobati rasa kangen bagi kaum perkotaan yang selalu menyimpan romantika kehidupan lama, termasuk saya. Kini, serabi tampil dengan berbagai rasa. Dari yang asin sampai yang manis, semuanya tampil harmonis.


Serabi Tuna

Ternyata membuat serabi itu tidaklah begitu sulit. Adonannya sangat simple. Cukup menggunakan tepung beras, terigu, garam, dan santan. Hanya itu. Jadi hal ini sangat memungkinkan untuk dibuat sendiri di rumah.

100 gram tepung beras
50 gram tepung terigu
200 ml santan kental (kemasan)
200 ml air mineral panas
½  sendok kecil garam
½  sendok kecil gula pasir

Campurkan santan kental dengan air panas, aduk hingga merata, lalu diamkan. Tunggu air santan jadi hangat, masukan tepung beras ke dalam cairan santan, kocok merata selama kurang-lebih 10 menit hingga mengeluarkan gelembung udara. Diamkan hingga minimal 1 jam. Setelah adoanan didiamkan, campurkan tepung terigu sedikit-demi-sedikit, lalu masukan garam dan gula pasir.

Dalam pembuatan serabi, diperlukan wajan yang tebal untuk membuat adonan terpanggang dengan baik. Jika saja mau sedikit ribet, kita bisa memakai cetakan serabi tanah liat yang bisa dibeli di pasar atau di tukang tembikar. Namun tempat pembakaran ini bisa diakali dengan menggunakan wajan tebal yang biasa dipakai membuat telor ceplok.

Panaskan wajan kecil tebal. Tuang adonan ke dalam wajan, beri secukupnya toping yang diinginkan. Untuk mempermudah, kita bisa memakai berbagai macam makanan kaleng siap saji, dari daging sapi-ayam-sampai tuna. “Keberhasilan” serabi bisa diukur dari munculnya rongga-rongga kecil ketika mulai matang. Hal ini berfungsi juga untuk memperlancar proses kematangan yang ditunjukan juga dengan mengembangnya si adonan. Kurang lebih dari 5 menit, serabi akan matang. Sajikan selagi panas dengan taburan gerusan merica hitam.

Saya membuat serabi-serabi kecil ini untuk teman segelas teh di pagi hari. Beberapa serabi kecil sangatlah cukup untuk pengisi amunisi kegiatan sampai siang hari. Nikmat dan penuh nostlagia. — (P)