30/04/12

Lumpia Basah Anak Sekolah


Suatu hari, bersama dua orang rekan, saya menghabiskan makan siang di sebuah restoran Vietnam. Seperti biasa, spring roll selalu menjadi pilihan pertama untuk pemanasan sebelum makanan utama. Sambil menyantap kesegarannya, tidak sengaja pembicaraan mengarah kepada cerita seorang rekan yang baru saja pulang liburan. Dan kebetulan dia baru pulang dari Vietnam. Kebetulan yang tampak disengaja, tetapi tidak.

Teman saya itu fasih bercerita mengenai Vietnam. Hang Long Bay adalah tempat yang sangat dia rekomendasikan untuk penggemar fotografi seperti saya, katanya. Keindahannya menyilaukan mata, meromantiskan jiwa, dan menyejukan pikiran, masih katanya. Selagi dia bercerita pikiran saya sedikit menerawang, sambil mulut mengunyah, dan sprill roll ditangan. Menerawangnya bukan ke dalam keindahan alam, namun tertuju pada Vietnam punya makanan.


Menurut saya, sebagian besar makanan Vietnam itu sangat sehat. Mereka banyak memakai sayuran dalam masakannya. Penggunaan bahan-bahan segar tampak menjadi prioritas, namun tidak untuk penggunaan minyak, mereka menggunakannya sangat minimal.

Kemudian pikiran saya membandingkan masakan Vietnam dengan Indonesia. Hmmm, tetapi untuk apa dibandingkan, saya rasa. Karena pasti akan berbeda. Budaya-nya saja sudah beda. Tidak ada yang lebih baik maupun lebih buruk. Saat itu saya hanya memikirkan bagaimana memasukan jiwa dan sikap masakan Vietnam ke dalam masakan sehari-hari di Indonesia. Bahan masakan itu harus selalu jadi hal utama. Kesegaran adalah prioritas.

Tiba-tiba, sekelebat, pikiran saya dilewati lumpia!

Makanan yang dulu waktu zaman SMP dan SMA gerobaknya selalu nongkrong di depan pintu sekolahan. Dan itu saya suka! Apa, ya, makanan yang pada akirnya jadi jajanan itu, rasanya gurih, nikmat, dan cukup mengenyangkan dikala jam istirahat sekolah tiba. Nah, untuk hal ini saya bisa bandingkan. Antara spring roll Vietnam dan lumpia basah sekolahan, hehehe.


Perbedaan yang ketara antara kedua masakan itu, saya rasa, dari penggunaan minyak. Di dalam springg roll, hampir dipastikan tidak ada satu pun yang proses memasaknya dengan menggunakan minyak. Beda dengan lumpia basah, hampir seluruhnya melalui proses menggoreng, plus memakai sedikit bumbu. Tetapi, ya itulah nikmatnya masakan Indonesia. Lezat. Meskipun kadang orang bilang itu tidak sehat, tetapi apa mau dikata. Selagi kita bisa mengatur pola makan kita secara porsi, wajar, dan tidak berlebihan, sangat tidak masalah segala jenis masakan apapun masuk ke perut tanpa harus takut ini takut itu.

Maka, makan siang di restoran Vietnam pun akhirnya menjadi inspirasi saya untuk memasak lumpia basah à la sekolah.


Dengan mengambil inspirasi dari Vietnam, saya menggunakan kulit bungkus yang terbuat dari beras. Ini biasa digunakan untuk spring roll dan mudah didapatkan di supermarket pilihan. Minyak, saya memakai olive. Memakai udang untuk ragam rasa, mengganti rebung dengan bengkuang, mengganti tepung kanji dengan tepung jagung, dan membuat kaldu ikan sebagai pelezat makanan.


Lumpia Udang

Segenggam penuh toge
4 ekor udang besar, cingcang
2 butir telur ayam segar
Kulit lumpia (tepung beras)
Bawang putih, iris
Olive oil
Garam dan merica
Kaldu ikan

Bengkuang, diiris kecil memanjang
½ balok gula merah
Air putih secukupnya

¼ balok gula merah
2 sendok tepung jagung (maizena)
Air putih secukupnya

Dalam sebuah panci kecil, masukan air secukupnya, gula merah, dan irisan bengkuang. Ini akan membuat dulu olahan bengkuang yang menjadi khas dalam sebuah lumpia basah. Aduk sampai gula merah mencair, lalu diamkan sampai semua cairan surut dan menyerap ke dalam irisan bengkuang. Ini memakan waktu kurang-lebih 10 menit.

Sambil menunggu olahan bengkuang, dalam sebuah panci kecil lainnya, masukan air putih secukupnya dan 2 sendok tepung jagung. Kocek sampai benar-benar merata, lalu masukan irirsan ¼ balok gula merah, kemudian panaskan di atas api kecil. Aduk terus secara merata sampai cairan benar-benar mengental hampir menyerupai lem cair. Setelah mendapatkan tingkat kelengketan yang diinginkan, lalu angkat, dan dinginkan.

Panaskan sebuah wajan, masukan olive oil, goreng irisan bawang putih, lalu orak-arik 2 telur ayam sampai setengah matang. Setelah itu, sisihkan di pinggir wajan, lalu masukan kembali olive oil secukupnya, masukan juga cincangan udang, segenggam toge, aduk sampai rata, siram dengan kaldu ikan kemudian tutup masakan di wajan. Ini dilakukan supaya toge tidak terlalu keras ketika dimakan.

Setelah kurang lebih 2 menit, buka penutup wajan, lalu aduk toge-udang dengan orak-arik telur yang sebelumnya sudah dibuat. Aduk sampai merata, taburi dengan garam dan merica, lalu angkat. Dalam proses penggorengan ini tidak memerlukan waktu yang lama, karena ada udang dan toge yang memang proses memasaknya jika kelamaan akan tidak begitu enak. Dalam sebuah bidang datar, siapkan kulit lumpia tepung beras. Biasanya jika beli di supermarket, kulit dalam keadaan keras. Maka dari itu buatlah lembek dahulu si kulit lumpia dengan membalur semuanya memakai sedikit air.

Setelah kulit lumpia siap, ratakan cairan pemanis (yang dibuat pertama kali) di atasnya, lalu masukan olahan toge-udang-telur, kemudian di atasnya simpan olahan bengkuang gula jawa. Bungkus dengan baik semua olahan tersebut. Selesai sudah.

Sajian makanan ini cocok untuk kumpul-kumpul di rumah sahabat SMA, sambil bercerita sana-sini mengenai kenangan lama. — (P)