20/07/17

Pagi di Bulan Juli



"Saya ingat suasananya, akrab. Empat sampai lima tungku dikerubuti oleh belasan orang yang setia menunggu serabi pesanannya. Asap tembakau, seruputan kopi, gelak tawa, beringingan membuat ritme suara kehidupan pagi sambil disisipi letupan suara kayu bakar. Sementara si emak penjual selalu asik konsentrasi membuat serabi yang hanya mempunyai tiga ragam variasi: polos, oncom, dan yang 'termewah' yaitu: memakai telur. Begitu sederhana. Masih saya ingat kenangan itu." 

Lima tahun yang lalu saya ungkapkan perasaan tersebut, kala menuliskan resep sarapan di catatan Pagi Hari Dengan Serabi.






Di desa Maparah, kecamatan Panjalu, kabupaten Ciamis, berkunjung saya kesana. Di balik bilik, bayangan lima tahun itu akhirnya bisa terealisasi. Kembali untuk menikmati serabi penuh memori.

Namun si emak tidak lagi pegang kendali. Tungku menjadi kuasa anak lelaki. Adonan serabi, jadi urusan si istri.   (P)

· · ·