07/08/17

Menghayati Tumbuhan



Tuhan menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa bentuk dan warnanya dan tak serupa rasanya. Dia menyuruh untuk memakan buahnya apabila tumbuhan berbuah. Dengan kehendak-Nya juga manusia dihidupkan. Diberikan-Nya alam, beserta isi yang berlimpah. Supaya bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh kita, manusia. Umat-Nya.

Tumbuhan menjadi materi dasar bagi terjadinya kehidupan di bumi. Tumbuhan hanya ditemukan di bumi yang mempunyai cadangan air. Tumbuhan diturunkan ke bumi untuk keuntungan manusia dan hewan. Dia menciptakan tumbuhan sebagai sumber makanan bagi makhluk hidup-Nya.


Tumbuhan memiliki hak dan kewajiban tersendiri. Menyembah dan menjungjung tinggi perintah Tuhan dengan caranya sendiri. Yang tidak dimengerti oleh kita, manusia. Tumbuhan merupakan sebuah anugerah, khusus yang Tuhan berikan. Karena dari sini pula-lah manusia bisa mengambil peran tumbuhan sebagai pengobatan. Kitab yang saya yakini, berulang kali menyebut peran tumbuhan sebagai makanan dan obat. Lalu kenapa manusia harus menutup mata. Mengharamkan anugerah yang dikaruniakan Tuhan. Saya meyakini hanya Tuhan-lah yang berhak menetapkan halal dan haramnya rezeki. Itu hak preogatif Tuhan. Bukan manusia yang menetapkan.

Kekuasaan dan sikap angkuh, mendorong manusia untuk berlaku tidak adil. Sehingga tampak seperti merekayasa kebohongan terhadap Tuhan. Manusia mempunyai jantung hati. Pusat perasaan. Pusat kepekaan. Sudah seharusnya kita memiliki perasaan. Siapapun yang tidak lagi punya kepekaan, sepertinya, lenyap juga kasih sayangnya terhadap kaum yang lemah. Karena kasih adalah kepekaan hati melihat ketidakberdayaan. Manusia di anugrahi juga akal. Kenapa tidak juga digunakan dengan maksimal.

Saya diajarkan untuk tidak mengaharamkan makanan yang baik-baik yang telah dihalalkan-Nya sebagai rezeki. Dengan sebuah syarat tidak berlebih-lebihan, karena disana pasti selalu ada konsekuensi yang harus saya lakoni. Makanan yang baik itu, apapun yang dapat memberikan manfaaat ketika saya mengkonsumsinya. Yang menyehatkan tubuh dan tidak memberikan dampak buruk bagi kesehatan rohani dan jasmani saya. Apa yang baik untuk saya tentu akan berbeda dengan yang baik menurut orang lain. Karena kondisi tubuh manusia berbeda-beda, meskipun kita diciptakan sama.

Dalam kehidupan, saya coba untuk membaca sambil berjalan. Untuk mendapatkan pelajaran, bekal perjalanan pulang. Saya tidak mau tersesat dalam semak bertingkat, di dunia yang tampak memikat. Tujuan perjalanan saya: Beautiful mansions in Garden of Internity.

Only God can judge me.  (P)



· · ·