31/07/17

Memaknai Air



Dari langit, Dia turunkan air yang memberi berkah, lalu ditumbuhkanlah dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. Maka di keluarkan-Nya tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Di keluarkan-Nya dari tanaman yang menghijau itu butiran yang melimpah. Kita sebagai makhluk hidup saangat memerlukan juga unsur organik ini. Supayqa tubuh dapat menjalanan tugas dan fungsi alaminya sebagai manusia. 

29/07/17

Membekali Ragasastra



Kaget dan kecewa rasanya membaca paparan Tempo minggu ini. Yohanes Surya menghiasi lembaran liputan khusus kriminalitas. Dia dituding menyebarkan KTA bekedok beasiswa dan student loan kepada ratusan orang tua siswa Universitas Surya.

Angan-angan pak Surya menjadikan universitasnya sebagai kampus besar seperti Harvard University mungkin kini hanya mimpi yang mati. Ternyata, dari dua tahun beroperasi, STKIP Surya sudah berjalan lunglai. Kepintaran ilmu fisika dan visi-ambisi Yohanes Surya tak dibandingi dengan cara dia berstrategi. Secara bisnis dan keuangan yang dikelola.

Pak Surya mungkin lupa, kepintaran yang dia miliki tidak dibekali dengan pengalaman kerja sebagai pengusaha, bukan hanya "pembicara". Mungkin ini yang selalu di ingatkan orang tua kita. Ilmu sekolah tak pernah sama dengan realita, dunia kerja. 

27/07/17

Menerima Keadaan



Mujair tak pernah datang dengan ajakan. Menghubunginya, mengharapkannya, sekaligus mempersilahkan berenang leluasa di sebuah  kolam, sama sekali bukan agenda resmi sebagian orang. Ikan ini datang dengan tiba-tiba dan mudah terdeteksi di sudut-sudut kolam, saat kebanyakan mereka masih berwujud anak-anak. Bukan satu, tapi bergerombol. 

Dan mungkin segerombolan anak di suatu sudut hanya berasal dari satu mulut induk. Karena, dia—satu mujair betina—mampu menampung lima puluhan butir telur untuk mengeraminya. Sampai bisa berkali-kali. Tak terbayang, misalnya, ada lima betina, berapa banyak bayi munjair yang akan tumbuh-kembang. Beranjak dewasa, dalam satu kolam air tawar.

20/07/17

Pagi di Bulan Juli



"Saya ingat suasananya, akrab. Empat sampai lima tungku dikerubuti oleh belasan orang yang setia menunggu serabi pesanannya. Asap tembakau, seruputan kopi, gelak tawa, beringingan membuat ritme suara kehidupan pagi sambil disisipi letupan suara kayu bakar. Sementara si emak penjual selalu asik konsentrasi membuat serabi yang hanya mempunyai tiga ragam variasi: polos, oncom, dan yang 'termewah' yaitu: memakai telur. Begitu sederhana. Masih saya ingat kenangan itu." 

Lima tahun yang lalu saya ungkapkan perasaan tersebut, kala menuliskan resep sarapan di catatan Pagi Hari Dengan Serabi.

19/07/17

Sup Hangat di Musim Panas



SUHU UDARA DI KEDIAMAN SEDANG PANAS. Memuncak, gerah seharian. Yang jadi heran, terkadang di malam harinya udara cukup menusuk. Menuju peralihan pancaroba, saya kira.

Situasi sedang tidak menguntungkan untuk sebagian kalangan. Di beberapa daerah, pertanian maupun perkebunan gagal panen akibat kekeringan, di daerah lainnya perekonomian tersendat akibat banjir melanda ruas jalan utama. Cuaca sedang tak menentu. Badan rontok dibuatnya. Drop. Tapi tidak melebihi drop-nya ketua perwakilan rakyat kita sekarang, mungkin, ya ("Selamat Pak", Anda ditetapkan sebagai tersangka).



15/07/17

Jalanan..., Summer Smile Service



Outside the kitchen, PAUL   (P)