22/06/11

21/06/11

Menikmati Kesendirian

"You don't need human relationships to be happy, God has placed it all around us." Christopher McCandless

 

Tidak Saya Tanyakan Pada Rumput yang Bergoyang



Sangatlah murah harga suatu hal bilamana kita membelinya langsung ke mata rantai pertama. Begitupun dengan rumput laut yang baru saya beli. Sepuluh ribu rupiah saja uang yang saya keluarkan untuk satu kantung kresek besar dengan berat satu kilogram. Tepat di hari yang sangat panas saya membelinya. Itu merupakan waktu yang baik untuk panen rumput laut dengan umur yang cukup. Suhu yang panas juga dibutuhkan untuk proses pengeringan dengan memakan waktu 1-2 hari. Proses pengeringan ini sekaligus membersihkannya dari kotoran pasir dan batu-batu kecil karang. "Cukup direbus saja, sudah bisa dimakan," begitu jawaban si petani ketika saya menanyakan cara mengolahnya menjadi santapan minuman.


Dengan bekal sedikit pemikiran, saya merebus rumput laut kering. Tunggu-ditunggu, rebusan saya itu tidak memberikan sinyal kepastiaan sudah layak makan atau belum. Lima belas menit berlalu. Air rebusan semakin berbuih. Tiga puluh menit lebih saya lewati. Air mulai mengental, dan memaksa untuk keluar dari panci rebusan. Saya coba pegang si rumput laut, sudah mulai kenyal. Saya gigit, asin! Hehehe. Laut sekali rasanya. Hmmm, saat itu saya berpikiran untuk mencoba menghilangkan rasa yang sangat asin itu. Maka saya ganti air rebusan dengan yang baru. Sekitar dua puluh menit-an lagi saya melanjutkan proses perebusan. Rasanya cukup. Mungkin, itu juga mungkin, hehehe.

Lalu saya angkat, tiriskan. Woa, ternyata rumput laut yang saya rebus menciut, tidak sebanyak waktu pertama saya memasukannya. Baiklah, saya mulai tersadar. Rupanya rumput laut bisa menjadi hancur apabila direbus lama dengan air mendidih. Hmmm, apa mungkin ini bisa menjadi agar-agar, ya? Hmmm.

Lalu saya membasuhi rebusan rumput laut dengan air dingin. Rupanya itu dapat "mengencangkan" rebusan rumput laut yang awalnya melempem. Tidak ada pemikiran lain selanjutnya selain saya mengambil sirup Monin idola bercita rasa mint. Saya masukan bersamaan juga ke dalam sebuah gelas; potongan kecil cingcau hitam, es batu, sedikit madu, sekaligus rumput laut tadi. Tanpa air mineral, saya kocok semuanya, lalu saya minum. Segar.

Semudah itu :)

03/06/11

Mari Menekan

Sumber (dan gambar diolah) dari buku 101 Things I Learned in Culinary School.

01/06/11

Pada Sebuah Pantai



"Anak-anak, permainan, pantai, mungkin itulah kiasan terbaik bagi hidup yang spontan, tak terbatas dengan kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan, proses yang berangkat dari satu asal." *

Inspirasi: Bukan Sulap Bukan Sihir, Ocha and Bella


"Finite incabtatum!" Seketika saya tersadar dari mantra-mantra yang sedang bekerja.


Panas! Eh, dingin, sih, sebenarnya. Dingin yang maksimal! Jadinya panas. Hmmm, panas? Hahaha, ngomong apa, sih?! Hahaha, saya tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata, sebenarnya, ketika busa putih itu masuk ke mulut. Menyengat! Saking dinginnya, lidah ini kaget menerima serangan sensasi yang tak terkira. Seketika, saya pun tersadar dari pengaruh bergelas-gelas cairan anggur yang sebelumnya sudah membuat alam sadar sedikit terlena. Makanan yang saya rasakan itu merupakan hasil dari pengolahan dengan menggunakan cairan nitrogen (LN2). Ini adalah sebuah cairan yang sangat-sangat dingin dan mampu membekukan dengan cepat apapun yang ingin kita bekukan. -320F / -196C! Ya, Tuhan! Bisa terbayang, tidak, dinginnya?! 

LN2 sedang menjadi idola bagi beberapa juru masak. Penggunaan senyawa ini dianggap sebagai sesuatu yang cutting-edge di dunia kuliner. Memang, yang saya tahu, sejak beberapa tahun ke belakang, para juru masak sedang menggandrungi dirinya untuk dirasuki nyawa-nyawa kimia dan fisika. Berlembar-lembar laman dunia maya sudah saya baca mengenai penggunaan LN2 di dunia memasak. Tetapi baru di penghujung pekan kemarin, akhirnya saya bisa menyaksikan secara langsung "atraksi" penggunaan LN2 ini. Dalam sebuah keriaan pembukaan restoran Ocha and Bella (Jakarta) seseorang "menarik perhatian" saya dengan kepulan asapnya. Saya kira ini adalah atraksi sihir untuk lebih membius kami, tamu undangan malam itu, yang sudah kebelinger dengan sajian makanan enak dan asupan deras wine ataupun cocktail. Tetapi ternyata bukan, kehadiran tuan mister ini malah menimbulkan sebuah inspirasi, yang tekniknya, akan saya coba suatu saat nanti.


"Finite incabtatum" adalah sebuah mantra untuk menghentikan mantra-mantra yang sedang bekerja dalam cerita Harry Potter.