01/06/11

Pada Sebuah Pantai



"Anak-anak, permainan, pantai, mungkin itulah kiasan terbaik bagi hidup yang spontan, tak terbatas dengan kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan, proses yang berangkat dari satu asal." *

Maka, saat ini, saya ingin menjadi salah satu bagian dari anak-anak itu.

Tetapi, apa daya jiwa tak sampai. Pekerjaan yang (akan selalu) menumpuk tampak tak kuasa untuk saya tinggalkan. Huaaa! Hahaha, gila! Semenjak (beberapa hari ke belakang) seseorang mengajak saya ke pantai, sampai sekarang yang dalam pikiran saya hanyalah pantai, pantai, dan pantai! Mama, aku ingin ke pantai, Mamaaa...! Tak adil rasanya, Mama, disaat musim panas telah tiba, anakmu ini masih saja sibuk bekerja. Hahaha.

Tetapi tenyata Tuhan Maha Mendengar, diobati-Nya lah saya dengan sekantung besar kerang, hahaha. Seseorang yang tidak saya kenal tiba-tiba menawarkan kerang-kerang untuk saya bawa pulang. Ini terjadi ketika saya sedang menunggu pesanan martabak tipis keju-coklat yang tak kunjung datang. Saya melihat ada seorang bapak dengan pegawainya sedang asik-asik mengipas bakaran kerang. Saya hampiri, saya tanyai, kerang apa gerangan? Bentuknya aneh, cenderung mengerikan, sih, sebenarnya. Tak beraturan dan bertekstur sangatlah kasar, kerang-kerang ini lebih menyerupai bongkahan batu. Rupanya si bapak mempunyai kegemeran menyelam, dan baru saja pulang dari pantai Pangandaran. Woaaa! Mamaaa! Dia bercerita dengan menggiurkan betapa menyenangkannya dia berada di pantai, Mamaaa! 

Lalu si bapak menerangkan bahwa kerang-kerang ini keadaan asalnya menempel pada batu dan terumbu karang. Hmmm, ya, ya, ya. Saya pun menawarkan untuk mencicipinya. Menawarkan? Hahaha! Kurang ajar sekali! Hahaha. Lagian bakar-bakar beginian di ruang publik, ya, tak salah lah kalau orang umum seperti saya jadinya tergiur untuk merasakan. 

Dan tenyata si bapak dengan senang hati mengizinkan saya untuk mencicipinya, bahkan si bapak yang balik menawarkan saya untuk membawa pulang beberapa kerang! Wohooo! Mamaaa, anakmu pulang membawa sekantung kerang!


Berkelana lah saya di dunia maya. Saya cari resep-resep yang berhubungan dengan kerang. Karena bentuknya yang mengerikan, saya tidak berpikiran untuk memasak langsung dengan mencampurkan bumbu-bumbu pada sebuah wajan. Mau dimakan mentah-mentah, saya ketakutan. Takut keracunan. Karena, jujur, saya baru melihat kerang dengan bentuk yang mengerikan seperti ini.

Akhirnya saya menemukan beberapa resep saus dari blog Foodwishes dan dari laman bang Jamie Oliver. Satu lagi, tadinya, saya mempunyai ide untuk memasak sambal rica-rica Manado, mumpung nuansa Manado masih terasa semenjak perkenalan saya dengan sambal Roa. Awalnya, ide-ide resep ini mau saya wujudkan ketiga-tiganya. Tetapi kemarin saya sedang tidak mau repot, hehehe. Saya maunya cepat. Ya, sudah, saya berpikiran untuk mencampurkan saja ketiga resep tersebut. Si kerang cukup dibakar di atas perapian arang selama beberapa menit, dengan indikasi kematangan si cangkangnya akan sedikit kebuka.

Kerang Anak Mama

2 sendok makan cuka beras
2 cabai rawit merah, iris kecil-kecil
1 daun jeruk, iris memanjang
1 sendok teh gula pasir
1/2 tomat segar, iris kecil-kecil
1/4 jeruk manis
1/2 jeruk lemon, peras
Jahe secukupnya, iris kecil-kecil

Dan hasilnya? Voila!

Segar! Pedas! Mengejutkan! Menyegarkan! Tampilannya tidak jauh dari sambal rica-rica. Saus ini sangat kuat karakternya. Mungkin ini berasal dari penggunaan cuka beras. Perpaduaan irisan cabai merah dan jahe mampu menghangatkan tenggorokan dengan pedas dan menjalar perlahan ke ubun-ubun. Belum lagi kesegaran jeruk lemonnya, membuat lidah saya makin kesetrum. Untuk sedikit menyeimbangkan keadaan yang "nyinyir", ada potongan jeruk dan sesendok gula pasir yang sudah tercampur manis bagi mulut yang sudah bengis. Saya suka percampuran resep ini. Dapat lagi, saya, resep yang baru. Cihuy!


Ah, andaikan saya bisa menikmatinya pada sebuah pantai! Ahhh!!! Tuhan, obat kerang ini hanya untuk sesaat. Namanya saja obat, pasti si penyakit bisa kambuh kembali, Tuhan. Aku tetap ingin pantai. Mamaaa, aku ingin pantaiii!!!

*Dikutip dari "Sjahrir di Pantai" oleh Goenawan Mohamad