

CREDIT: GETTY
MENCEKAM. SEPANJANG PERJALANAN Dunkrik, saya dan istri
berusaha sekuat tenaga melawan keinginan bicara, untuk berkomentar. Kami dibuat
duduk dalam diam, untuk memperhatikan. Mungkin hanya “Argh!”dan “Gila!” yang
terucap terus-menerus keluar dari mulut. Christopher Nolan mampu mempertahankan
ketegangan dramatis alur cerita.
Tepuk tangan dari kami, untuk Dunkrik. Sebuah film fiksi
yang dibuat dari peristiwa nyata pada akhir Mei dan awal Juni 1940 di Dunrik,
pesisir Prancis. Cerita potongan sejarah yang gelap ditampilkan dengan sangat
berkilau. Emosional. Menyentuh perasaan; mengharukan. Beberapa kali, aliran
mata menghiasi wajah kami berdua. Keindahan visual yang sepi. Bisu. tak tergesa-gesa;
tenang; santai, namun memicu deg-deg-an dengan menawan.
Dunkirk adalah tentang penderitaan dan keberanian. Tentang
individu yang kurang peduli diri mereka sendiri demi kebaikan yang lebih besar.
Mereka merindukan pulang. Ke rumah. Ke dalam kenyamanannya. Untuk terus hidup. Dan
menjalankan kembali kehidupannya.


CREDIT: GETTY
Selepas keluar bioskop Twenty One, tak hentinya saya dan
istri terus membahas apa yang baru saja kami saksikan. Saya memprediksi film
ini bakal banyak masuk nominasi Oscar dua ribu delapan belas nanti. Istri saya
bertanya, “Mana Tom Hardy-nya ya?”. Saya pun baru ingat. Iya, sempat sekilas baca
review di koran, Hardy berperan di film ini, tapi peran yang mana, saya tidak
ngeh. Pun saya lupa memperhatikan siapa saja aktor-aktor lain yang ikut bermain
peran. Kami berdua hanyut ke tengah-tengah Drunkik, sampai membuat kami tidak
memperhatikan nama-nama penokohannya.
Di perjalanan
pulang, saya izin mau berbelok arah dulu. Terlintas tiba-tiba ingin membeli
stroberi. Namun istri malah bertanya, “Itu siapa saja ya yang berperan. Agak
familiar sama satu orang itu, Pap. Lupa...”.
Tiba di toko langganan, stoberi yang ada semuanya imporan.
Heran. Tidak biasanya stoberi lokal absen tampil di rak buah-buahan. Harus
jemput anak di rumah kakak, saya jadi tak sempat mencari stroberi di lain
tempat. Perjalanan pulang kami lanjutkan. Hari semakin sore. Ternyata di area sekitar tempat kami
tinggal pun stoberi lokal memang sedang sulit ditemukan. Apa sebabnya, tidak
lantas saya pikirkan. Minta petik di lahan sebelah bisa dilakukan jika saja
saya sedang berada di Soreang.



