26/09/15

Mi Celor Palembang

Mi Itali selera sungai Musi.

BEBERAPA TAHUN YANG LALU, untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di daratan Bumi Sriwijaya, Palembang. Saya lupa apa gerangan maksud kedatangan saya di kota tertua Indonesia tersebut. Entah perjalanan bisnis atau sekedar mengunjungi saudara, saya lupa. Lupa karena sudah lama, dan menganggap perjalanan tersebut tidak terlalu istimewa.

Namun, ada satu yang membuat saya tidak akan pernah lupa. Tidak lain tidak bukan; Mi Celor! Betapa memikatnya makanan tersebut hingga membuat saya sampai saat ini masih bisa terus menyimpan kenangan akan kelezatnya, kenikmatannya, dan rasanya yang nempel terus dalam rongga kerongkongan dan pemikiran. Memikat setelah makanan ini disikat, karena jika melihat tampilannya; sungguh sangat sederhana.


Mi celor merupakan hidangan mie dan taoge yang disajikan di dalam campuran kuah santan dengan kaldu ebi. Biasanya disajikan dengan irisan telur rebus dan taburan potongan udang. Konon, disebut mi celor karena proses masak mi dan taoge-nya dicelor atau pengertiannya dicelup-celup, pada air panas.

Kalau tidak salah saya membayangkan, saat itu sedang hujan rintik-rintik, udara Palembang tidak seperti biasanya orang bilang. Sedikit banyak angin berhembus. Dingin. Menapaki jalanan gang yang hanya bisa dilalui motor, saya melangkah ke sebuah warung di daerah pasar pemukiman padat penduduk. Katanya disana ada warung yang tersohor; Mi Celor 26 Ilir.

Pertama kali melihat tampilannya, membuat pikiran saya menjadi judge the book by its cover. Hahaha, that it’s?! Cenderung tidak menarik. Tapi saat kuah kaldunya diguyur ke piring, wow! Alamak! Semerbak, harum gurihnya! Sungguh menggugah selera! Saat itu pula saya langsung menelan angin berkali-kali sambil berusaha supaya air liur tidak menetes. Aroma santan panas berbaur dengan udang dan ebi-nya itu sungguh aduhai. Sampai mi celor di hadapan, hap! Tidak kurang dari 5 menit saya lahap! Setelahnya, “Tambah satu piring lagi, bang!”

BERTAHUN-TAHUN DARI PERISTIWA ITU, cukup menyiksa rasanya bagi saya yang tidak bisa melupakan begitu saja sajian nikmat tersebut. Selalu terbayang-bayang. Karena cukup susah mendapatkan kenikmatan mi celor yang sama di Jakarta. Kalaupun ada yang jual, rasanya kok tidak sama sesuai yang diharapkan.

Berkali-kali saya coba titip untuk dibawakan mi celor dari siapa saja yang sedang berkunjung ke Palembang. Tetapi alasannya selalu sama, bahwa makanan ini akan basi jika dibawa ke luar kota. Entas itu mitos atau apa, yang jelas sampai saat ini saya belum pernah dioleh-olehi mi celor asli dari Palembang. Yang ada, pempek lagi, pempek lagi.

Daripada tidak mendapatkan rasa yang asli, akhirnya saya berpikiran untuk melakukan aksi. Alih-alih berharap sesuai prediksi, saya jadikan saja mi celor sebagai inspirasi.

Mi celor sedikit mengingatkan saya kepada makanan Itali. Pasta Carbonara. Dia mempunyai tiga bahan utama yang tidak boleh lupa; telur, keju, dan pancetta. Tekstur mi celor dan pasta carbonara yang sama-sama creamy membuat saya ingin menggabungkan dua hidangan ini. Mi Itali dengan citarasa sungai Musi. Mi bisa diganti dengan fettuccine, santan akan diganti dengan cooking cream (supaya terasa lebih light), tauoge akan pakai tauoge rawon supaya kelihatan lebih cantik (karena bentuknya yang lebih kecil dari tauoge biasa). Teknik masak pasta carbonara dengan mencelupkan pasta panas ke dalam kocokan kuning telur dan keju parmesan akan tetap dilaksanakan.

Satu yang tidak boleh ditinggalkan yaitu kuahnya yang harus kental akan rasa udang. Terbayangnya akan menarik sekaligus menggelitik. Ini seperti pasta berkuah, namun tak berlimpah.

Berani coba? Saya jamin ketika anda hidangkan ke tamu yang datang ke rumah, akan membuat persepsi yang berbeda, anda, di hadapan mereka. Anda akan dipuji sebagai manusia yang berbudaya. Karena sebegitu modernnya kehidupan, anda tidak pernah lupa akan Indonesia. Inilah saatnya anda membanggakan diri, “Saya manusia lokal dengan citarasa global.”


FETTUCINE CELOR PALEMBANG
Resep untuk 2 orang

Saya akan berikan secara detail, supaya mudah diikuti oleh siapa saja terutama yang selama ini masih malu-malu kucing untuk terjun ke dapur. Malu, dong, rasanya, dapur sudah secanggih itu di rumah anda, tapi sekalipun anda belum pernah menodai kilap lantainya yang cantik. Penting untuk membaca dan memahami dulu resep ini sebelum memasak.

Bahan-Bahan:

Dry fettuccine; secukupnya
Udang ukuran sedang; 2
Taouge rawon; segenggam kecil
Ebi kering; 50 gram
Cooking cream; 50 ml
Telor; 3
Keju parmesan (parutan); 2 genggam
Pepperoni; beberapa lembar
Bawang bombay; 1
Bawang putih; 4 Siung
Bawang merah; 2
 Jeruk limau; 1
Tepung terigu; 2 sendok makan
Daun parsley; beberapa helai
Cabai rawit; 2
Merica dan garam; secukupnya
Minyak goring (olive, sunflower, atau palm, dll); secukupnya

Persiapan:

Cabut kepala udang, ambil cangkangnya, bersihkan punggungya
Rendam tauoge rawon di air panas selama 3 menit, lalu tiriskan
Cacah ebi kering
 Pisahkan kuning telor dengan putihnya
Potong memanjang pepperoni
Potong bawang Bombay, bawang putih, dan bawang merah
 Campur tepung terigu dengan sedikit air dingin
Cacah daun parsley
Iris tipis cabai rawit

Cara Memasak:

Hal pertama yang harus dilakukan yaitu menyiapkan kuah terlebih dahulu. Ini untuk memastikan bahwa fettuccine akan tetap panas dan tidak terlalu over cook ketika kuah telah siap.

Panaskan sedikit minyak pada wajan bergagang di atas api yang tidak terlalu besar. Masukan bawang bombay beserta kepala dan cangkang udang, tumis selama kurang lebih 1 menit, lalu masukan bawang putih, tumis, selanjutnya masukan bawang merah, tumis kembali.

Setelah harum dari bawang-bawangan tersebut tercium, masukan ebi. Oseng terus ebinya sampai dapur anda semerbak wangi gurih. Setelah itu masukan cooking cream, aduk perlahan.

Ketika cooking cream telah mendidih, matikan kompor, kemudian saring dengan hati-hati supaya anda mendapatkan kuah yang bersih dari tekstur bawang, cangkang udang, dan ebi. Panaskan kembali di dalam sebuah panci dengan api kecil, lalu masukan larutan tepung terigu supaya karakter kuah agak sedikit kental. Aduk perlahan, api tetap kecil, tabur garam dan merica putih. Kini kuah udang nan gurih anda telah siap saji. Anda bisa melakukan hal selanjutnya, namun sambil sesekali aduk perlahan terus si kuah.

Selanjutnya, rebus fettuccine di air mendidih yang telah ditaburi garam selama kurang lebih 8 sampai 10 menit, sampai empuk namun tegas, seperti yang orang katakan dalam bahasa Itali "al dente".

Di kompor lainnya rebus juga udang di air garam mendidih selama kurang lebih 3 sampai 4 menit atau sampai udang berubah warna menjadi pink. Gunakan feeling anda, jangan sampai over cook. 

Selagi menunggu pasta dan udang direbus, dalam sebuah wadah atau mangkuk besar, kocok secara rata 3 kuning telor beserta parutan keju parmesan.

Setelah 8 sampai 10 menit fettuccine direbus, angkat, tiriskan, lalu (selagi panas) segera masukan dan aduk dengan rata ke dalam mangkok berisi kocokan kuning telor dan keju parmesan. Panasnya fettuccine akan membuat kuning telor matang dengan sekejap.

Siapkan piring cekung atau mangkok atau wadah apapun koleksi anda, letakan dengan indah fettuccine sesuai yang anda mau. Tabur dengan cacahan daun parsley, dan sedikit irisan cabai rawit. Letakan potongan pepperoni, lalu udang di atasnya. Tabur tauoge rawon di sekitarnya.

Masukan kuah panas ke sebuah wadah.

Kini selesai sudah prakarya anda. Tarik nafas dulu, foto-foto dengan ponsel pintar anda, kemudian sebar di jejaring sosial, supaya dunia tahu anda telah membuat “maha karya”. Tetapi keasikan tersebut jangan sampai melupakan masakan. Segera lahap sebelum kuahnya dingin. Tuang kuah panas ke piring fettuccine. Ingat, jangan terlalu banyak kuahnya, karena ini bukan mi celor asli. Ini adalah fettuccine celor. Jangan lupa peras jeruk limaunya! Selamat menikmati. Yummmy!

···