28/10/11

Kebosanan Dalam Sebuah Pisang


Dikala kebosanan atau "nothing to do" datang, turun ke kota dan mengelilinginya tanpa kepastian arah-tujuan adalah pilihan yang sering dilakukan. Sendirian, tentunya.



Dan saya menemukan warung mungil ini, Juicide, berkenalan dengan pendirinya, Gonze, lalu acara tanpa acara saya itu berubah menjadi menyenangkan. Menyenangkan, memang, ketika kita bertemu dengan orang yang mempunyai hasrat yang sama. Pun begitu dengan Gonze. Dengan hasratnya yang besar dalam urusan perut, meskipun tanpa dukungan modal pendidikan di bidang kuliner, dia mendirikan sebuah juice bar yang menurut ceritanya bisa menghasilkan omzet yang sangat "lumayan". Hasrat, itu yang seringkali terlupakan oleh sebagian orang, tanpa disadari atau dengan sadar menyadarinya tetapi mencoba untuk tidak tersadar.


Obrolan dengan Gonze telah melupakan makan siang saya yang terlewat. Entah terlupa karena keasikan mendengar kisah hidupnya, atau entah karena tanpa sadar saya menghabiskan lima gelas jus beraneka rupa, hehehe. Bayangkan, anggur, kiwi, jeruk, stroberi, mangga, bayam, nenas, dan pisang! Yang jelas, kebosanan saya saat itu jadinya terobati dengan segala sesuatu yang mengenyangkan. Kenyang mendengar kisah yang banyak sekali bisa diaplikasikan dalam kehidupan dan kenyang karena perut terisi oleh beragam buah-buahan segar yang diolah dengan menyenangkan.

Pulang, saya membawa oleh-oleh resep minuman. Blonde Banana Blonde, begitu Gonze menamainya. Sangat sederhana rumusnya. Pisang, susu, yoghurt, dan es batu. Campur dalam sebuah blender. Wuz! Nikmat. Kali ini saya mendapatkan alternatif untuk menikmati kebosanan terhadap sebuah pisang.  (P)