25/07/11

Selamat Pagi


Adegan ini hampir selalu menjadi pembuka bagi awal drama kehidupan saya di pagi hari. Antara jam setengah enam menuju enam tepat atau lebih sedikit. Dari jendela kamar, saya hanya perlu menoleh ke bagian belakang rumah. Beruntungnya tinggal di desa, ya seperti ini, tidak ada gedung-gedung tinggi yang menutupi sorotan matahari pagi. Hangat.


Pagi. Awal. Bab pertama atau bahkan sebuah prolog sebelum kisah haru-biru mewarnai kehidupan. Harapan. Kita berharap banyak di pagi hari. Terhembuskan doa disana. Tak ayal pagi hari adalah saatnya kita mengumpulkan semua energi positif untuk sebuah hari yang baik. Energi kasat mata dan energi yang mempunyai rupa. Makanan. Sarapan.

Bagi saya sarapan itu sangat-sangat penting. Sangat, saya garis bawahi dan tebalkan kata untuk hal ini. Sarapan adalah bahan bakar supaya semangat saya pun ikut terbakar. Supaya raga sekuat binaraga. Supaya otak dan pemikiran saya melesat secepat kilat. Sarapakan merupakan alat kontrol saya agar tidak makan berlebih sepanjang hari. Saya selalu menjadi bangsa Barbar ketika dihadapkan dengan waktunya sarapan. Apapun bisa saya makan. Baik makanan cepat saji maupun ketika saya harus memasaknya terlebih dahulu. Ini juga lah kesempatan saya untuk makan makanan yang sebenarnya masuk dalam catatan hitam, makanan yang dilarang. Dilarang demi kebaikan tampilan tubuh maksudnya, hehehe. Saya tidak pernah takut untuk memakan apapun di waktu pagi, karena semua makanan yang masuk akan terbakar oleh aktivitas yang saya kerjakan sepanjang hari.

Meskipun tidak lapar, saya selalu paksakan. Setidaknya sesuatu yang "kecil" masuk ke tubuh saya. Mau sepotong pisang, sebuah apel, atau hanya segelas yogurt. Dua telor yang hanya di rebus pun tak masalah, cukup ditemani kecap, beres. Tidak mempunyai waktu? Saya makan sereal. Tinggal seduh dengan air panas, sarapan sudah tersedia.

Penting. Saya hanya bisa mengatakan sarapan itu penting. Sepenting liburan di musim panas! Sarapan apa hari ini?


GQ x Ted Gushue Summer 2011 Minimix oleh Ted Gushue