27/05/11

Sederhana


Kolaborasi ikan shishamo dengan sambal roa ini terinspirasi dari restoran Jepang yang saya datangi beberapa saat ketika baru saja membeli sambal roa. Sebelumnya saya tidak pernah membeli ikan ini, dan kaget ketika mengetahui harganya. Satu bungkus besar yang kurang lebih berisi 30-35 ikan dibandrol seharga lima puluh ribuan. Kaget karena sebelumnya saya memakan (hanya) dua ekor shishamo seharga tiga puluh ribuaan. Gila, restoran yang baru saya kunjungi itu mengambil untungnya banyak sekali, hehehe. Ya, namanya juga bisnis, apa mau dikata.

Dalam otak saya, shishamo akan dasyat bila berpadu dengan sambal roa karena "sifatnya" yang mudah kering bila dibakar. Tadinya saya menyangka akan terlalu keasinan apabila keduanya disajikan bersamaan. Tetapi pada kenyataan tidak demikian, karena shishamo tidak memiliki rasa asin yang keterlaluan.

Shishamo sangat populer di Jepang. Mungkin karena khasiatnya yang menawan. Ikan ini memiliki kandungan omega 3. Tidak repot memakan dan mengolah shishamo karena semua bagiannya bisa langsung dimakan tanpa tersisa. Pun untuk tulang, kita bisa melahapnya sampai habis. Dan memasak shishamo sebaiknya tidak terlalu memakai banyak bumbu. Biarkan rasa aslinya benar-benar keluar. Di restoran Jepang, shishamo sering disajikan hanya dengan kecap asin (soy sauce). Lezat dan gurih yang tidak berlebih sudah merupakan karakter yang kuat untuk ikan ini. Sederhana saja pengolahannya, namun hasil akhirnya tidak sesederhana itu. Ini semacam makanan yang sulit untuk diberhentikan, maunya makan lagi dan lagi. Apalagi ketika dalam perut shishamo itu terdapat telur-telur yang gemuk. Beuh... Inilah nikamatnya sebuah karunia.

Tadi, shishamo bakar menemani saya, ketika makan siang bergeser terlampau jauh ke waktu sore. Dengan modal tambahan sepotong tempe, kesederhanaan shishamo mampu membayar ganti rugi perut yang dari siang minta diisi. Perut saya ditampar sebelas shishamo bakar! Hehehe.