11/04/11

Tamu Pertama


Inilah tamu pertama Djalujang yang akan memberikan resep-resep andalan sekaligus mengajarkan keahliannya dalam mememasak. Sosok ini merupakan salah satu orang yang berada dibalik kesuksesan sebuah majalah gaya hidup kaum urban; Sub.

Saya mengenal Krishna sebagai teman yang bisa memasak. Keahlian tersebut dia dapatkan ketika sedang menyelesaikan pendidikannya di negeri kangguru. Dia sempat bekerja di sebuah rumah makan, dimana awalnya hanya sebagai pencuci piring, lalu beranjak sebagai cook's helpers, sampai akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk memasak.

Beberapa hari yang lalu saya bertandang ke rumahnya. Kami sempat berpikir lama untuk memutuskan apa yang akan dia masak hari itu. Kebingungan tersebut sampai membuat Krishna mengeluarkan buku-buku resep makanannya yang ternyata keluaran tahun '90-an. Klasik sekali.

Akhirnya keputusan didapat dalam perjalanan menuju sebuah supermarket, ketika kami hendak membeli bahan-bahan. Krishna akan memasak daging ayam, ikan dori, dan daging kambing. Wow! Tampaknya hanya satu yang bisa saya nikmati secara penuh, yaitu ayam, mengingat saya sedang tidak makan kambing dan ikan-ikan laut. Argh, menyebalkan. Ya sudah, mau bagaimana lagi, palingan saya hanya bisa sedikit mencicipinya :(


Setiba kembalinya kami berbelanja, Krishna langsung mengolah ketiga bahan-bahannya. Yeah! Dia mampu mengolah bahan berbarengan sekaligus. Woaaa, kalau saya sih belum mampu seperti itu, satu makanan saja kadang terasa sulit untuk memfokuskan diri, hehehe.


Daging ayam merupakan bahan pertama yang Krishna garap. Sambil bekerja, dia sekaligus mengajarakan saya bagaimana membuat sepotong daging ayam (bagian paha) disajikan dengan hanya satu tulang saja. Hmmm, menarik. 


Chicken Supreme 

Daging ayam bagian paha
Bawang putih dan bombay
Keju mozzarella

Beras basmathi (India)
Kaldu ayam
Thyme kering 
Lemon
Gula pasir
Olive Oil
Sake Jepang

Garam dan merica

"Bedah" bagian daging paha atas, lalu potong tulangnya. Setelah itu bersihkan paha bawahnya dengan memotong tulang bagian (menuju) kaki ayam. Ya, ya, saya sudah terbayang bagaimana mudahnya nanti ketika melahap santapan ayam ini.


Lumuri daging ayam dengan garam dan merica. Disini Krishna memberi saya tips, katanya biasakan untuk mencampurkan garam dan merica dalam satu wadah dengan takaran 70% (garam) - 30% (merica). Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan takaran kedua bumbu tersebut dan akan mempermudah kita ketika sedang memasak.

Lalu selipkan potongan keju mozzarella dibawah kulit ayam yang menempel. Sesudahnya, Krishna menunda dulu olahan ayam, sebentar, dan beranjak mengerjakan olahan nasinya.



Goreng bawang putih dan bombay secara bersamaan dengan menggunakan olive oil, oseng sampai warnanya menguning. Lalu masukan beras yang sebelumnya telah dicuci terlebih dahulu. Setelah itu, masukan thyme secukupnya, lalu masukan air kaldu. Pembuatan air kaldu ini gampang sekali membuatnya, kalau mau instant, pakai saja kaldu yang sudah dipadatkan (mudah didapatkan di supermarket) dengan mencampurkan air mineral. That's it, semudah itu.

Krishna memasak bawang dan nasi tersebut di loyang oven. Hahaha... saya suka cara dia memasak! Dengan memakai loyang tersebut, mempermudah dia untuk langsung memasukannya ke dalam oven. Tutup loyang dengan aluminium foil, lalu masukan ke oven selama beberapa menit
. Langkah mendahulukan memasak nasi ini dikarenakan oven yang Krishna miliki ukurannya kecil, jadi tidak bisa memuat banyak sekaligus. Setelah itu, Krishna mengolah daging kambing! Bwahaha, masakan satu belum selesai, ternyata dia sudah loncat ke masakan berikutnya.


Silence of the Lamb


Kambing
Madu
Olive oil
Mustard
Bawang putih
Garam dan merica (putih)
Rosmery
Merica hitam

Lumuri daging kambing dengan semua bumbu dalam sebuah wadah, lalu dinginkan di kulkas dahulu. Beres, hahaha.


Maksud beres disini, simpan dahulu olahan kambing tersebut supaya bumbu bisa sedikit meresap. Dan, hap! Krishna pun mulai mengolah masakan ketiganya. Hahaha, sinting. Nih orang bisa sekali untuk fokus dengan tiga menu sekaligus.

Ikan Dori

Ikan dori
Lemon
Garam dan merica
Tepung terigu
Tepung roti


Oleskan garam dan merica ke badan ikan dori yang sudah di-fillet, lalu peras jeruk lemon. Setelah itu taburi dengan tepung terigu, lalu terakhir, taburi dengan tepung roti. Lalu digoreng?


Oh tunggu, Krishna rupanya ingin menggoreng daging ayam dulu, sebentar. Ini dilakukan karena ketika itu olahan nasi sudah selesai. Nah, maksud "menggoreng" daging ayam ini adalah hanya untuk menutupi bagiaan atas dan bawah yang sebelumnya (tadi) sudah diselipkan potongan keju mozzarella. Ini dilakukan supaya ketika sedang di-oven, keju tidak melumer kemanan-mana dan cairan juicy dari ayam tidak menetes. Hmmm, ya, ya, ya, saya mengerti. Setelah permukaan daging ayam "ditutup" dengan menggorengnya, lalu masukan ke dalam oven.



Ok, tidak ada waktu kosong yang terbuang percuma bagi Krishna. Olahan ikan dori tadi dia kerjakan kembali untuk digoreng. Brushhh...! Selesai, dan jadilah resep ketiga ini menjadi masakan pertama yang selesai! Hahaha...



Santapan pertama... Hmm, enak! Krishna mengoreng ikan dori dengan sebentar, karena memang begitulah sebaiknya. Kedua jenis tepung tadi hanya menjadi pelengkap kecil dalam kelezatan santapan ini. Oya, untuk teman "colekannya" saya lupa itu dibuat dari apa! Hahaha...


Sambil saya makan (sedikit) ikan dori itu, Krishna tidak tinggal diam. Dia langsung mendekati kompor untuk membuat saus putih yang nantinya dipakai sebagai pelengkap sajian daging ayam dan sekaligus untuk daging kambing.

Caranya juga mudah, oseng bawang putih dengan olive oil di sebuah wajan. Setelah itu guyur dengan sake, dan biarkan alkoholnya menghilang. Sake ini diperlukan untuk mengambil cita rasa "anggur"-nya. Lalu tuangkan whipping cream. Tambahkan gula, garam, merica, dan (terakhir) masukan sedikit parutan jeruk lemon. 

Ting!

Oven sudah berdenting, tandanya daging ayam telah matang. Ahey! Lalu Krishna mengambil nasi yang telah matang duluan dan menyimpannya di piring. Nah ini yang saya suka lagi, Krishna memakai "tangan kosong" untuk menata nasi di atas piring! Hahaha... saya suka cara ini! Dari sebelumnya memang saya perhatikan, dia hampir selalu memakai tangan kosong untuk memasak. Bahkan mengangkat ayam dari wajan untuk dipindahkan ke oven pun dia lakukan dengan tangannya. Natural, man! Bwahahaha...


Setelah nasi tersusun, simpan potongan ayam di atasnya. Lalu guyur dengan saus putih. Selesai. Oiya, saya lupa, yang kuning di atas itu adalah saus mangga. Yap, itu mangga segar yang di-blender dengan tidak menggunakan apa-apa lagi, baik air maupun garam.

Mau tahu rasanya? Wuenak sekaleee... Nasi sangat-sangat gurih, ini karena kaldu pastinya, dibarengi dengan daging ayam yang emmmpuk-puk-puk! Si keju mozzarella
 tadi rupanya telah mencair dengan baik ke dalam serat-serat daging ayam. Rasanya tambah semarak dengan kehadiran saus mangga yang membuat santapan ini mempunyai sensasi yang unik ketika dikunyah di mulut. Gurih dan kesegaran manis bercampur dengan sempurna. Manisnya terasa alami karena dihasilkan dari buah mangga segar. Eits! Jangan coba-coba merusak makanan ini dengan sambal botolan. Sudah tidak zaman, merusak makanan dengan cita-rasa pedas, apalagi kepedasannya instant didapat dari sambal botolan, hehehe.

Dan inilah sajian penutup kami kala itu, daging kambing! Saya sih hanya bisa dadah untuk sanjian yang ini, hahaha... Tetapi saya coba icip sedikit, makkk... sedap benerrr... Argh, asam urat ini membunuhku :(


Akhirnya selesai sudah "presentasi" memasak dari seorang Krishna Ranadipura. Banyak sekali hal yang bisa saya ambil untuk dijadikan ilmu. Cara dia memperlakukan makanan meskipun terkesan "asal" tetapi saya yakin sekali dia lakukan itu dengan tepat. Krishna hampir tidak pernah menambahkan bumbu tambahan di ketiga sajian masakan tadi. Semuanya sudah dibuat dengan takaran yang pas di awal memasak dengan natural. Natural? Ya, saya katakan natural karena ternyata Krishna "hanya" menggunakan feeling untuk setiap bumbu yang dia tabur, tidak ada patokan sendokannya. I like it!

Krishna menyuruh saya untuk berlatih menggunakan pisau dengan luwes. Menurutnya, memotong adalah salah satu hal yang harus dipelajari pertama dalam memasak. Konon kehebatan orang memasak bisa dilihat (salah satunya) dari potongan-potongan olahan yang dia masak.

"Kupas dan potong bawang sekarung!" begitu sarannya.