07/04/11

Jamuran


Sudah dari sejak kecil saya menyukai jamur, jenis apapun juga. Dulu saya kecil tumbuh-berkembang di alam pedesaan dengan kakek-nenek yang membimbing. Ada dua desa yang pernah saya tinggali, satu di daerah Banjaran (Bandung Selatan), satu lagi di daerah Ciamis. Di desa Banjaran lah saya mengenal dan mulai menyukai jamur.

Dulu di pedesaan mudah sekali menemukan jamur, apalagi ketika sedang musim hujan. Seringnya saya menemukan di pinggiran sungai, menempel begitu saja di sekitar sebuah pohon. Kalau tidak salah jamur yang sering saya temukan itu namanya jamur tiram. Dulu saya menyebutnya su'ung, karena memang dengan nama itulah orang Sunda mengenalinya.

Suka sekali saya dengan olahan oseng jamur tiram. Hanya memakai bumbu yang minimal, proses memasaknya sebentar, selanjutnya disajikan dengan nasi hangat yang pulen, oseng jamur selalu menjadi sajian favorit ketika saya kecil. Nikmat.

Sampai saat ini saya masih menyukai jamur. Beragam jenis jamur kini saya mengenalinya, namun saya rasa belum semua juga saya coba. Jamur memiliki karakteristik yang berbeda-beda di setiap negara, kota, bahkan wilayahnya. Di wilayah yang sama pun jamur bisa ditemui dengan beragam jenis lainnya. Tetapi ada satu jamur yang sangat membuat saya penasaran sampai sekarang, yaitu truffle. Konon truffle merupakan jamur termahal di dunia, karena langka dan sulit sekali untuk menemukannya. Dibutuhkan anjing dengan penciuman yang sangat tajam untuk menemukan jenis jamur yang tumbuh di dasar tanah ini. Saya belum pernah mendapatkan kabar bahwa truffle tumbuh di Indonesia, yang saya tahu jamur ini di luar negeri sana pun tumbuh di daerah-daerah tertentu saja dan hanya ada pada musim-musim tertentu.

Andai saja ada yang mau berbaik hati menghadiahi saya jamur truffle... Hmmm, ngayal, hehehe...


Sekarang lupakan dulu truffle, simpan saja itu sebagai amunisi untuk mimpi-mimpi nanti malam. Sore tadi saya membuat sebuah krim jamur yang rasanya sangat elegan sekali. Krim dan jamur benar-benar terasa di garda paling depan untuk saling berkolaborasi menghasilkan rasa yang... hmmm, apa ya... Juicy? Creamy? Hmmm... kurang tepat juga kata-kata itu. Hmmm, rasanya... Saya tidak bisa menemukan kata yang cocok, hehehe... Resep ini diadaptasi dari bukunya Jamie Oliver, Jamie's Food Revolution.

Krim Jamur
Jamur portabela
Daging ayam bagian dada (Jamie menyuruhnya smoked bacon, tetapi karena sedang tidak boleh makan daging merah, saya ganti dengan ayam)
Thyme kering (Jamie menyuruhnya yang segar, tetapi saya punya yang kering, hehehe...)
Whipping Cream (Jamie menyuruhnya heavy cream, lagi-lagi karena saya hanya punya itu)
Cabai rawit
Merica hitam
Garam (Jamie menyuruh memakai garam laut, ah saya sih garam warung-an biasa saja, hehehe)
Minyak kelapa sawit (olive oil saya sedang habis, sebenarnya Jamie menyuruh memakai olive oil)


Suir daging ayam, lalu cincang sehinggga bentuknya kecil-kecil. Panaskan sebuah wajan, masukan minyak, lalu goreng ayam tadi. Sebenarnya saya tadi memakai ayam yang sudah matang, karena saya mempunyai persediaan ayam yang sudah dibacem bumbu kuning. Jadi saya tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk menggoreng cincangan ayam ini.

Sambil menggoreng ayam, saya masukan irisan cabe rawit dan thyme kering.


Setelah itu, saya masukan jamur, tidak lama kemudian saya masukan whipping cream. Aduk secara perlahan sampai whipping cream menggelembung, lalu masukan garam dan merica hitam yang sudah digerus kasar. Sedikit untuk garam, banyak untuk merica! Hehehe... Maklum, doyan.


Angkat wajan, lalu sajikan di sebuah piring (yang tengahnya agak melengkung masuk ke dalam). Selesai. 


Krim jamur ini cukup mengisi perut saya sore tadi. Lumayan perut ini tidak "jamuran" karena menunggu waktu makan malam tiba. Sepertinya masakan ini cocok kalau ditemani roti kering, sayang, saya sedang tidak mempunyai persediaan. Mau pakai nasi, takut kekenyangan. Nasi? Bwahaha... Cocok tidak ya kalau masakan ini dibarengi dengan nasi? Hahaha... Lain kali saya coba ah, hehehe.