18/08/13

Tangan Kosong

It feels better enjoying sushi with the hands


Gambar diolah dari karya Jim Phillips

MENIKMATI MASAKAN INDONESIA dengan jari-jari tangan merupakan bentuk kewajiban untuk mendapatkan kenikmatan yang maksimal. Terkecuali masakan berlimpah kuah, rasanya kurang afdol untuk selalu memakai sendok-garpu. 

Namun, lain ladang lain belalang. Menggunakan jari-jari tangan bukanlah hal yang lazim dilakukan dalam tradisi makan orang barat. Walau ada, itupun bukan untuk makan besar. Menjadi menarik, ketika kuliner barat (dan negeri lain) menyerbu Indonesia namun direspon berbeda dalam tata-cara bersantapnya. Tidak sesuai dengan aturan makan si makanan berasal. Antara makan memakai jari-jari tangan dengan makan memakai peralatan masih sering menjadi saling tukar kegunaan. 

Tata-cara bersantap makanan luar mengalami evolusi di negeri ini. Ada benturan budaya: berangkat dari ketidak-tahuan kemudian menjadi kebiasaan massal, disinyalir alurnya seperti itu. Ada pula terjadi karena memang disengaja: atas nama bisnis dan industri. Dia diutak-atik sedemikian rupa tanpa harus merasa "bersalah" telah merusak tradisi asal. Semuanya tak perlu dipermasalahkan, selama itu membuat nyaman para penikmatnya, iya toh?

Dan... sebuah kenyamanan telah muncul dalam ritual makan. 


Akhir-akhir ini saya sering menggunakan jari-jari tangan untuk menyantap hidangan luar yang semestinya menggunakan peralatan makan. Ini menjadi kebiasaan baru. Terkesan tidak lazim, memang. Diluar kebiasaan sekitar, tetapi sangat menyenangkan.
Makan dengan jari-jari tangan merupakan sebuah tindakan yang membangkitkan emosi dan indra.

Kini saya merasakan ada sensasi berbeda ketika makan sushi menggunakan jari-jari tangan, tanpa sumpit. Sushi terasa lebih seksi saat saya meraba badannya, membaliknya, sedikit mencelupkannya ke soy sauce, lalu memasukan ke mulut dengan bagian ikan pertama kali menyentuh lidah. Dengan jari-jari tangan, memakan sushi jauh lebih mudah, mengingat disini tidak banyak restoran sushi yang membuat kepadatan dengan baik dalam pengolahan sushi meshi. Dengan jari-jari tangan saya bisa lebih mengendalikan badan sushi yang sensual. Tentunya saya tidak akan lupa menyeka jari-jari tangan dengan oshibori sebelum, selama, dan sesudah makan.

Kebiasaan memakai jari-jari tangan berlanjut ketika makan salad. Saya dapat merasakan langsung kesegaran daun-daunnya yang terbalut dengan keasaman vinegar ataupun perasan lemon dengan tekstur sedikit kasar dari tumbukan lada hitam. Cara ini tidak mengharuskan saya untuk menusuk dan merusak daun. Tapi tidak semua jenis salad dimakan dengan jari-jari tangan. Terbayang betapa kacau (misalnya) kalau harus makan salad dengan dressing thousand island.

Seseorang pernah menegur atas kebiasaan baru ini. Katanya saya jadi terlihat kampungan. Menanggapinya, saya hanya bisa tertawa. Saya merasa masih mempertahankan etika dalam kaidah makan, ingat akan sopan santun. Saya masih bisa melihat tempat ketika kebiasaan ini dilakukan. 

Tidak ada maksud untuk melawan arus. Saya hanya ingin sedikit bersenang-senang dengan sebuah santapan. Makan dengan jari-jari tangan merupakan sebuah tindakan membangkitkan emosi dan indra. Dari saat ujung jari saya menyentuh permukaan makanan, tubuh mengirim sinyal ke otak untuk mengantisipasi karakter seperti apa yang akan dirasakan lidah dan mulut. Apakah akan terasa renyah, lembut, keras dan lainnya. Namun demikian, saya tidak suka melumat habis jari-jari saya sendiri, bahkan sampai keluar bunyi. Bagi saya, itu jorok. Dan saya selalu pastikan kuku terpotong pendek, mencuci tangan dengan bersih, serta selalu menggunakan tangan kanan. 


Ketika makan dilakukan dengan penuh perhatianmenggunakan semua indera: penglihatan, penciuman, suara, dan rasa—bagi saya kebiasaan menggunakan jari-jari tangan melengkapi elemen penting dalam mengapresiasi sebuah makanan: sentuhan. Meraba, merasakan bentuk dan tekstur segala macam komponen masakan secara langsung.  (P)

Dengan jari-jari tangan lebih menyenangkan!
(1) sushi, (2) salad, (3) ribs / meat on the bone, (4) fish and chip, (5) pizza.


···