13/02/13

Gegar Budaya


Budaya minum teh di sore hari seolah-olah baru saja datang. Aktifitasnya jadi banyak dilakukan oleh semua kalangan. Padahal jauh sebelum hal ini menjadi "tren", nenek-kakek kita sebenarnya sudah sering melakukan.


Karena kita menganggap budaya nge-teh ini datang dari luar, maka kehadiran berbagai camilannya pun tak bisa terhindarkan. Mini sandwiches, scone, victoria sponge, fruit cake, battenberg cake, serta beragam cakes dan pastries lainnya, kita, seperti menjadi sudah awam mengenalnya. Ragam camilan tersebut muncul dengan bentuk-bentuknya yang mini, beraneka warna, tersanding dengan cangkir-cangkir yang berdesain cantik dan imut, pokoknya sangat sedap untuk dipandang. Mungkin karena alasan itu akhirnya muncul istilah "ngeteh cantik". Mungkin.

Budaya "baru" ini menjadi lucu bagi saya. Saya rasa budaya nge-teh di sore hari sudah sering dilakukan oleh banyak keturunan kita di Indonesia. Apalagi daun teh bukan barang langka bagi negara ini. Hanya saja memang bangsa kita umumnya tidak melakukan kegiatan nge-teh sebagai tradisi yang "cantik". Air teh diseduh dalam gelas pun tak masalah. Lengkap dengan gorengan atau jajajan pasar, keturunan kita sebelumnya sudah terbiasa untuk menikmati sore dengan sederhana.

Lalu, kita, sekarang, kenapa harus selalu mengikuti selera pasar? Tidak cukupkah kuatkah akar kita? Kenapa tidak kita kembali ke budaya yang telah kita miliki, bahkan kalau perlu kita gali bersama untuk sarana saling mencari. Semuanya sederhana. Atau mari menjadikan kehidupan kita sekarang ini lebih sederhana. Ini sebuah pilihan. Supaya setidaknya kita tidak menjadi generasi yang terlupakan.


Ya, ketika bersama menjadi sulit untuk dilakukan, saya selalu berpikiran untuk melakukannya sendiri saja. Saya merasa hidup saya perlu semakin didekatkan dengan budaya yang sudah dipunya Indonesia. Entahlah, peduli setan dengan istilah nasionalis, karena memang saya tidak serta-merta menginginkan diri saya bak seorang negarawan. Saya hanya merasa, ya kenapa tidak saya untuk tetap mengakar, tetap berbudaya Indonesia. Kenapa tidak.

Sore kemarin menjadi seru apa yang terjadi di serambi. Bersama istri kami berbincang mengenai gegar budaya, tradisi, dan situasi terkini. Teh panas tawar tersaji di cangkir yang tidak fancy. Dengan ketan pandan yang sedikit manis, cukuplah bagi kami untuk menghabiskan sore yang gerimis. Romantis. — (P)


300 ml gram beras ketan putih
550 ml santan
5 butir telur
200 gram gula pasir
3 helai daun pandan
4 helai daun suji
Tepung maizena
Sejumput garam

Rendam beras ketan selama 2 jam, lalu kukus hingga setengah matang. Cara termudah mengukus bisa dilakukan pada sebuah rice cooker. Sementara itu masak 200 ml santan beserta 1 daun pandan dan sejumput garam sampai mendidih.

Masukan kukusan beras ketan ke dalam olahan santan, aduk rata. Kemudian kukus kembali ketan tersebut sampai matang.

Taruh kukusan ketan yang matang dalam sebuah cetakan, padatkan.

Setelah itu, tumbuk 4 helai daun suji dan 2 helai daun pandan dengan memberi sedikit air, lalu peras sampai mendapatkan 50 ml. Kocok 5 kuning telur dan gula hingga larut, tambahkan 250 ml santan, air daun suji-pandan, dan 3 sendok makan tepung maizena. Aduk sampai merata, lalu tuangkan olahan ini di atas ketan kukus dalam cetakan. Kemudian kukus kembali hingga matang selama kurang-lebih 45 menit.

Angkat, biarkan dingin mengikuti suhu ruangan.