12/02/12

Dewa Baru


Beberapa bulan kebelakang, tidak sengaja saya melihat sebuah acara bertajuk Chef On The Road di saluran National Geographic Channel. Tayangan yang berdurasi hanya kurang dari satu jam itu ternyata memikat perasaan pada pandangan pertama. Saya dibuat jatuh cinta oleh pesona seorang chef. Tutur kata yang baik, senyum keramahan yang selalu mengembang, gestur tubuh yang menyiratkan kesopanan, pemikiran yang selangkah maju ke depan, membuat sosoknya muncul sebagai pribadi canggih yang tetap membumi di mata. Itu yang saya rasakan. Semenjak itu, saya haus informasi akan dirinya.


Dialah, Ryan Clift.
Dan berada di ruang kerjanya serta disodorkan langsung karya mutakhir olehnya merupakan sebuah pengalaman spiritual yang luar-biasa hebat bagi saya seorang kacangan. Apa yang saya bayangkan tentang dia ternyata memang benar sesuai kenyataan. Pertemuan dengannya menjadikan hari saya kemarin itu sungguh menggembirakan. Hati, perasaan, dan pemikiran.
Amazing!
Ini seperti menemukan dewa baru. Yang membuat segala pemikiran mengenai masak saya menjadi pindah haluan. Berubah. Pemikiran akan bahan makanan serta penggabungannya, pemikiran saya dalam memperlakukan masakan, pemikiran saya mengenai rasa yang ingin dimunculkan, pemikiran ketika mempresentasikan, dan sejumlah-jamleh pemikiran saya sebelumnya ternyata mampu dibelokan oleh pertemuan yang terjadi hanya kurang lebih lima jam di Tippling Club. Tidak salah jika dia dan restorannya sudah bertahun-tahun menjadi sahabat bagi para pemberi gelar terbaik, pemerhati, dan penikmat makanan.
Saya benar-benar dibuat menjadi umatnya. Ah, saya banyak kehilangan kata untuk mengeluarkan segala isi kegembiraan perasaan. Ini semacam puncak klimaks dan pukulan gong yang sempurna untuk memastikan benar-benar bahwa dia seorang sosok yang patut untuk dipanuti. Berbincang singkat dengannya di tengah hiruk-piruk dapur, benar-benar mampu menghasilkan sebuah pengalaman perasaan yang, GILA! 
Gila. Saya tidak menemukan pengungkapan maksimal yang bisa menjelaskan pengalaman luar-biasa saya ini. Amuse bouche yang sangat luar-biasa berkarakter, ikan trout yang tersaji dengan pengolahan yang sangat luar-biasa baik, merpati yang terpanggang dengan luar-biasa sempurna, interpretasi coklat yang luar-biasa maksimal, pemilihan minuman yang luar-biasa tepat, presentasi masakan yang luar-biasa avant garde, apa lagi yang bisa saya katakan. Saya kekurangan ungkapan
Itu baru dari sudut karya makanan yang dia kreasikan. Belum lagi dari sudut pandang saya melihat Ryan Clift sebagai pribadi, sosok manusia beserta sifat-sifatnya yang mengagumkan. Belum lagi dari sudut perjalanan dia sehinga jadi seorang chef. Belum lagi dari sudut otak pemikiran dan sikap yang dia tonjolkan. Belum lagi dari sudut pelabuhan terakhirnya sekarang, mengolah restoran yang luar-biasa membanggakan. Saya benar-benar kehilangan kosakata.
Oktober nanti, Ryan Clift berucap semoga kita berjumpa di Jakarta Culinary Festival 2012. Ops, apakah saya membocorkan informasi? Mudah-mudahan tidak (sorry, Ismaya).
Terima kasih Ryan Clift, atas segala inspirasi dan pelajaran yang tidak sadar telah diberikan. Ini sungguh sebuah ilmu yang sangat berharga. Anda memang seorang dewa! Idola.  — (P)