20/01/12

Menyesali Untung


Dalam perjalanan, kepulan itu begitu menarik perhatian, untuk berhenti dari laju kendaraan. 


Dua perempuan itu membentuk bayangan. Hitam. Legam. Terlatar-belakangi oleh tusukan terik yang masuk dengan bebas dari atap yang tampak sengaja dibiarkan lepas.
"Harapan-ku akan selalu bertahan," katanya, "pada asap yang bergumpal."

Ia, sesosok lain manusia yang datang dari zaman edan, yang dikatakan telah mengenal kehidupan, membentuk ukiran tapak kaki dengan perkasa. Melangkah masuk ke dalam dengan busungan dada yang masih mengembang.

"Apa yang dia tawarkan?" ia bertanya dalam hati, 
"untuk apa berharap dalam pekat, dalam kegelapan dan kepulan yang menyesakkan."

"Aku nyenyak
dalam hidupku yang tak tidur ini. 
Hangat. 
Terselimuti asap
yang kau anggap pekat," salah satu perempuan menjawab pertanyaan yang ia pikirkan. 
"Janganlah kau menyesali untung, dari apa yang kau anggap buntung, tak lengkap seperti apa yang ingin kau dekap, sepanjang hidupmu, sampai akhir hayatmu."

Mendadak ia terdiam,
seperti gerombolan penghuni laut yang tampak kaku dan membeku,
yang mungkin arwahnya ikut terbang dalam setiap pembakaran batok kelapa yang menghitam.

"Manis yang kau dapat memang akan selalu terasa amis," lanjut perempuan lainnya. "Tak usahlah membakar perasaan dengan api yang membara. Biarakan harapan terwujud matang dengan perlahan, oleh asap yang mungkin selama ini kau tahan."

"Redakan bara, segera."

Di Rembang, ia tertawa, 
menahan derita yang selalu pura-pura tak dirasa. — (P)


Svefn-G-Englar oleh Sigur Ros