02/07/11

Atap Pondok Hijau



Semua ini terjadi serba dadakan. Tanpa pikir panjang, saya rasa. Pertemuan di kedai kopi dengan sahabat lama di hari Selasa meletupkan ide oplosan untuk masak-masak di esok harinya, mengingat kita baru sadar bahwa hari besok-nya itu libur nasional. Tidak biasa saya masak-masak "besar" tanpa harus dirancang jauh-jauh hari sebelumnya. Karenamaklum amatiransaya perlu pemikiran, siasat, dan pengaturan ide akan apa yang harus saya sajikan. "Barbecue-an saja, biar gampang," ide itu keluar begitu saja dari mulut sahabat saya. Oh, no, barbecue! Inilah yang selalu saya hindari jika saya merencanakan masak bersama. Saya tidak pernah tertarik untuk ber-barbecue-ria. Alasannya hanya satu, yaitu tampak "umum" sekali, hehehe.

Namun, tetap, ide "umum" itu langsung kita diskusikan. Untuk melonggarkan penolakan saya, sahabat saya itu menghadirkan banyak artikel pembicaraan yang terkoneksi secara tidak langsung dengan ide barbecue tersebut. Dari program Man vs. Food di saluran TLC, makanan-makanan yang "sangat" Amerika, junk food, sampai ke masalah bujangan yang menjadi status kita. Untungnya juga tiga kitab Jamie sedang saya bawa di mobil, jadilah kita sibuk mencari-cari kemungkinan sajian yang akan saya masak. Dan dapat! Setelah saya baca dan selidiki resep yang terpilih, saya menyanggupinya, karena ternyata kita bisa membuat sebuah barbecue yang rasanya sedikit "berbeda", mungkin. Ya, mungkin, karena setidaknya barbecue yang akan saya lakukan ini jauh sedikit ribet dari biasanya, hehehe. Orang maunya mudah, ini kok malah maunya sulit. Ya, namanya juga anak muda, masih senang sama tantangan :)


Tibalah kita keesokan harinya. Total orang ada empat. Rully Rubins, Pandapotan, Noel, dan saya. Semuanya adalah sahabat lama. Sahabat masa sekolah, dan sahabat ketika saya masih bergelut di "dunia kreatif". Siang adalah waktu yang kita sepakati, tetapi karena saya tetap bekerja (pun di hari libur nasional) maka rencana bergeser ke malam. Niatnya saya mau kabur, tetapi tak tega rasanya jika meninggalkan pekerjaan. Ya, apa boleh buat. Dan "untungnya" dari siang sampai detik-detik kita akan mulai memasak, cuaca sedang hujan. Tak mungkin lah kita terguyur hujan disaat sedang ber-barbecue. Oya, masak-masak kali ini saya membuatnya di atap rumah Rully Rubins.

Rupanya memang cuaca sekarang ini (lagi-lagi) sedang tidak menentu. Beberapa minggu lalu saya sedang gembira karena dipertemukan dengan musim panas, namun nyatanya, kemarin itu hujan. Repot, pak! Ketika saya sedang mengatur meja makan dan area memasak, tiba-tiba hadirlah tetesan-tetesan air yang makin lama makin deras. Berteduhlah kita dahulu akhirnya, dan tata letak pun seketika menjadi berantakan. Alam, susah ditebak maunya. Ya sudah, saya memutuskan untuk persiapan masak saja dulu, dengan baju kebasahan.

Persiapan masakyang sudah seperti biasa dipastikan lama—membantu kita juga dari kejenuhan menunggu reda-nya hujan. Kira-kira pukul sembilan malam, hujan mulai reda, kita pun langsung mengatur kembali meja makan dan area masak. Kali ini saya memasak Bacon and Mushroom Cream Served with Baguette, Homemade Burger, Smoked Barbecued Shellfish and Prawn with A Chilli-lime Dressing, dan (niatnya) Barbecued Meat and Homemade Barbecue Sauce. Niatnya? Ya, santapan terakhir ini tidak jadi disajikan karena semua perut sudah sangat kekenyangan, hahaha.

Acara bakar-bakaran pertama ini kita lewati dengan sukses, perasaan saya senang. Saya menjadi punya banyak ide-ide lain yang ingin saya realisasikan untuk acara barbecue selanjutnya. Sepertinya saya ingin membeli kitab-kitab barbecue, hehehe. Ada nuansa dan perlakuan yang berbeda dalam sebuah barbecue, saya rasa. Ini jelas beda dengan masak-masak biasa. Mungkin ini sebuah turunan dari mata rantai memasak. Menarik. Sangat menarik. Saya mendapatkan satu tips penting dari orang rumah yaitu untuk memakai batok kelapa dan sedikit serabutnya yang dicampurkan dengan batu bara sebagai bahan dasar pembakaran. Ini akan membuat daging atau apapun yang kita bakar di atasnya akan menghasilkan bau yang "alami", tidak bau arang.


Malam semakin larut, udara dingin semakin menusuk. Sambil melonggarkan perut, kami pun menikmti malam dengan obrolan, bisikin senandung Humania, dan white wine serta bir yang bergantian hilir mudik membasahi kerongkongan. Ada beberapa wacana yang menjadi pembicaraan, tetapi mudah sekali ditebak, hal yang menarik tentunya pembicaraan mengenai wanita, wanita, dan wanitya! Klasik! Hehehe.

Saya sangat menikmati malam itu. Suasananya dapat sekali, meskipun tanpa kerlipan bintang. Pikiran saya loncat-loncat mengingat memori apa saja yang telah saya lalui bersama orang-orang terdekat saya ini. Intens. Meskipun kita jarang bertemu, tetapi tetap hati diantara kita tidak pernah asing. Ada pengertian yang tertanam, ada batasan yang terjaga. Sebuah hubungan persahabatanyang sepertinya, sampai kapanpun tidak akan terpisahkan. Hati saya bahagia.

Tepat pukul tiga dini hari, mata mulai mengantuk. Tak kuat rasanya untuk beres-beres dengan bersih apalagi mencuci piring. Untungnya kita tidak sedang masak di alam bebas. Jadi fasilitas kasur tinggal melangkah beberapa saat sudah tersedia. Ah, nikmatnya suasanan malam itu. Terimakasih Tuhan, atas semua berkah makanan dan persahabatan yang telah Kau berikan ini. Berlimpah :)


Fotografi dibantu oleh Pandapotan dan Noel