26/05/11

Tiga Bruschetta



Tidak ada metafora yang lebih mendasar selain ungkapan bahwa baguette adalah lambang dari negara Prancis. Begitulah tutur penulis buku "The Bakers of Paris", Steven Kaplan. Ibarat nasi di Indonesia, roti itu "makanan pokok" bagi masyarakat Prancis. Dan baguette merupakan solusi "terbaik" dalam pengadaan bahan makanan "cepat saji" untuk menemani sarapan, makan siang, maupun santapan malam bagi parisian.

Di negara kita baguette acapkali terlihat dijadikan sebagai hidangan bruschetta, yang biasanya disajikan sebagai makanan pembukan ataupun cemilan. Ya, diluar itu, baguette juga merupakan sahabat karib bagi sup tomat ataupun pelengkap yang sempurna bagi beraneka-ragam jenis "mie" Italia.


Beberapa minggu kebelakang saya jadikan baguette sebagai "simbol kebanggaan" untuk sebuah dukungan seorang sahabat yang sedang berbahagia berada di kota Paris. Saya kultus-kan baguette sebagai lambang harapan yang panjang dalam menempuh perjalanan kehidupannya di sebuah impian yang diinginkan.

Tetapi, kreasi nyata dari dukungan ini malah saya wujudkan dalam sebuah makanan (yang konon) berasal dari Italia, bukan Paris, hehehe. Saya mencoba mengolah baguette menjadi bermacam-macam bruschetta. Jadi saya lompatkan si sajian ke negara yang berbeda. Ya, siapa tahu sahabat saya itu kelak bisa berada di Italia, hehehe, amin.

Ada tiga brushcetta yang tercipta dan tertangkap kamera dari beberapa kreasi ngasal yang saya lakukan. Seperti biasa, diluar dugaan, saya tak menyangka dengan mencampurkan olahan Sunda ke dalam sajian Italia ini bisa menghasilkan rasa yang menakjubkan. Sabi! Sedap! Gurih. Bercita-rasa nasional dengan sentuhan kekinian. Mudah pula membuatnya.

Kreasi bruschetta lainnya, nanti, juga akan saya tampilkan.