17/05/11

Pembakar Suasana

Benda ini baru saja membakar kebekuan dan kekakuan suasana tempat bekerja.


Memang benar apa yang dikata, betapa makanan menjadi senjata yang maha kuasa untuk melancarkan segala misi dan usaha. Ritual meja makan dalam sebuah keluarga adalah kesempatan yang berharga untuk kumpul bersama di dalam sebuah waktu yang sudah semakin langka. Makanan menjadi pelarian bagi manusia-manusia yang sedang gundah akan masalah atau bagi pribadi yang sedang tergoyah. Betapa.

Pun begitu dengan yang baru saya alami, tadi.

Akhir-akhir ini tempat saya bekerja dilanda kekakuan yang amat sangat. Perubahan yang sedang saya lakukanuntuk kebaikanrupanya tidak berkenan bagi beberapa orang. Dianggapnya saya ini keterlaluan. Mengotak-ngatik keadaan yang sebelumnya—tampak—aman sentosa. Tetapi itu, kan, tam-pak. Kelihatannya saja. Kulit. Luaran, yang notabene kasat mata. Ya, begitulah, tak perlulah saya bawa-bawa intrik pekerjaan ke dunia maya. Yang jelas saya melihat kenyataannya, bahwa makanan menjadi media yang ampuh bagi segala macam usaha yang sedang saya tempuh.

Saya biarkan senjata baru ini "dinodai" karyawan tempat saya bekerja. Tidak ada keterlibatan saya dalam memasak. Kali ini saya diam. Apa yang disajikan biar menjadi apa yang mereka inginkan. Jagung, daging sapi, udang, cumi, dan ikan bawal menjadi tuan di pembakaran perdana. Dan semuanya berjalan dengan sempurna. Semua terbakar dengan cepat dan meresap. Saya suka pembakaran ini.

Maka, misi saya berjalan seperti apa yang diharapkan. Kita tertawa, kita betegur-sapa. Bergoyang dengan alunan dangdutan, mereka gembira. Lega. Lega hati saya dibuatnya. Lagi-lagi saya perlu berterima-kasih dan bersyukur dengan keadaan. Daging sapi, apalagi makanan laut, belum tentu mereka sering dapatkan dengan sebebas ini. Saya terharu dan tertampar. Puji syukur dipanjatkan (dan lagi-lagi) saya mendapatkan gairah tambahan. Untuk terus melangkah dengan perasaan yang nyaman. Besok, semoga apa yang telah dilakukan membawa sebuah perubahan. 

Be nice!