06/05/11

Karangan Bebas


Zaman dulu, ketika SD, pelajaran yang paling saya suka yaitu Bahasa Indonesia. Entah kenapa. Semangat rasanya saat guru Bahasa saya yang berbadan "subur" itu datang dan mengajar di kelas. Saya akan lebih semangat lagi mengikuti pelajaran ini ketika saya tahu akan diadakan tugas mengarang bebas. Ya, mengarang. Menulis. Menceritakan.


Biasanya tugas semacam ini menjadi "wajib" hukumnya ketika kita kembali ke sekolah sehabis masa liburan selesai (meskipun hari-hari di luar libur pun kadang tetap ada). Tugasnya yaitu menyuruh murid-murid untuk menceritakan pengalaman atau apa saja yang kita alamai sepanjang masa liburan. Bagi sebagian teman, tugas ini membosankan. Mengulang lagi ingatan untuk menceritakan semua kejadian, kadang menjadi suatu hal yang malas untuk dikerjakan.


Tetapi beda dengan saya, dulu. Saya sih sanggup mengisi penuh dua lembaran kertas! Hahaha.


Ada perasaan yang lepas ketika saya menulis. Ada pemikiran yang menerawang. Khayalan. Ada memori yang terkorek, atau dipaksa dikorek, yang menghasilkan senyuman atau bahkan kesedihan. Ingatan. Menulis itu salah satu cara untuk melawan lupa. Untuk mengingat dan menyimpan. Membakukan memori ke dalam sebuah catatan. Juga khayalan. Ya, khayalan. Imajinasi. Ketika menulis, imajinasi saya berkelana kemana saja, saling tindih-menindih berebut minta dikeluarkan dan segera dituliskan.


Hmmm. Bisa jadi karena adanya tugas karangan bebas itu-lah yang membuat saya menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Hmmm. Ya, ya, ya.



Rupanya kegemaran "mengarang bebas" berlanjut sampai sekarang, ketika saya mulai menyukai memasak. Dulu saya mengarang cerita dalam bentuk tulisan, tetapi kini saya mengarang resep yang berakhir menjadi sebuah santapan, hehehe. Ya, beda-beda tipis-lah. Kerangka pemikirannya kurang-lebih sama, hanya beda medianya saja. Mengarang tulisan dan menggarap resep sama-sama membutuhkan imajinasi. Hanya saja dalam masakan mungkin lebih dikedepankan masalah "keberanian" dan ke-sok-tahuan, hahaha.

Mengarang bebas ini saya lakukan tadi pagi. Ketika persediaan bahan makanan makin menipis, cenderung habis. Di kulkas hanya ada sisa, sisa, dan sisa. Hahaha. Saya memutar otak. Khayalan-khayalan, datanglah.

Dan dapat. 
Wohooo!

Saya iris-iris bawang bombay, bawang merah, bawang daun. Hmmm, saya masih punya roti gandum favorit. Saya kepikiran untuk memperlakukan roti tersebut seperti baguette. Saya olesi dengan mustard, taburi merica hitam. Saya menginginkan rotinya menjadi gurih dan kering. Hmmm, tadinya irisan-irisan bawang itu untuk memasak telur, tetapi reflek saya menyimpannya di atas roti. Lalu kepikiran juga untuk menyimpan keju chedar supaya semakin gurih si roti itu.


Sambil mengerjakan roti, khayalan saya pun semakin rangkai-merangkai. Sepertinya lucu kalau ditemani daging-dagingan. Tetapi harus "ringan" dan tidak terlalu mempunyai rasa yang menonjol. Tiba-tiba datanglah ingatan ketika saya membuat mie ayam jahe cabe rawit. Saya berpikiran untuk memperlakukan daging ayam-nya seperti itu. Dengan bumbu yang berbeda, tentunya. 


Lalu saya campurkan sekenanya bumbu apa saja yang dipunya. Maka dimasukanlah red pepper, basil—dan yang pasti tidak ketinggalan—garam dan merica. Oya, saya masukan olahan roti yang tadi ke dalam pemanggangan.



Si daging ayam pun dimasak. S
autéing. Brusss! Hmmm, harum. Basilnya tercium sekali. Saya suka. Bwekekek, ada yang tertinggal! Hahaha, lupa memasukan bawang merah, hahaha. Ini tidak terjadi sekali-dua kali, saya sering sekali melupakan bawang merah! Hahaha. Beginilah kalau tukang masak amatiran, selalu lupa dan tercampur si pemikiran, yang mana Eropa, yang mana Asia, hehehe.

Ya sudah, saya masukan saja si bawang merah yang tertinggal. Cuek. Woa! Warnanya menawan. Coklat-coklat langsat. Bukan, bukan si mba di iklan Citra itu, tapi si daging-daging yang sedang saya masak yang berubah kulitnya menjadi coklat langsat. Saya kepikiran untuk membiarkannya lebih lama. Kesannya biar "raw". Hahaha, kekinian sekali.



Panggangan roti sudah ngebul, tandanya roti telah cukup kering. Kebenaran, si daging ayam telah cukup untuk dimasak. Ya sudah selesai.


Oiya, ada yang lupa lagi. Telor! Hahaha, kelihatan rakus ya, hehehe. Maka saya pun mengolah telur. Tiga, dong, tentunya, seperti biasa. Si telur ini rencananya mau dibuat omelet, tetapi gagal! Hahaha, entahlah, karena sifatnya pun dadakan jadinya ngaco sekali ini adonan. "Kesalahannya" saya memakai butter yang ber-garam
jadinya menghasilkan minyak yang gosong—baru sekali memakai keju langsung di adonan telornya, dan memasukan whipping cream kebanyakan. Hahaha, kacau mampus.


Benar selesai sudah, memasaknya, tadi pagi.


Hasilnya? Si roti panggang ini rasanya wuenakkk! Horeee!!! Sesuai seperti yang saya harapkan. Kering, asin, dan gurih (meskipun saya tidak pakai garam di roti ini). Dan meskipun saya kebanyakan mengoleskan mustard, tetapi setelah dipanggang jadinya tidak kuat si rasa yang muncul. Krenyes! Kres!


Sedangkan untuk juara utama tadi pagi, tidak lain tidak bukan yaitu si daging ayam! Gila!!! Enak parah! Pilihan yang tepat untuk mengolahnya dengan ditumis sedikit agak gosong. Parah, parah, parah! Asli! Si basil nempel ke sisi-sisi daging, menyebarakan aroma dan rasa yang maksimal. Sama seperti si roti, agak asin dan kering namun tetap juicy. Hadirnya red pepper menyentuh dengan lembut lidah saya tanpa merasa kepedasan. Ahhh, saya cinta olahan daging ayam saya ini!


Bagaimana dengan sajian telurnya. Hmmm, skip saja dulu deh. Hahaha, gagal euy! Lupakan. Lupakan sejenak kenikmatan telur di pagi hari. Meskipun saya tetap mengahbiskannya, karena sayang kalu dibuang. Untuk urusan telur, kali ini saya tidak sedang beruntung :(