01/12/12

Maradilla



Perempuan ini adalah istriku. Dialah penyebab dalam tiga bulan terakhir ke belakang aku jarang bersinggungan dengan kompor untuk memasak. Dia mengambil alih dapur kecilku di rumah. Dia mengendalikan makan siangku dengan tangannya yang mungil. Dia mengontrol sarapan pagiku sambil sebelumnya bertanya, hmm, membuat pernyataan lebih tepatnya, "Aku buatkan bubur oatmeal ya". Dan aku hanya meng-iya-kan semua pernyataannya.

Aku tak berdaya.

Tak pernah ku bisa tolak semua masakannya. Meskipun terkadang masih sedikit keasinan, kurang matang, atau bahkan tak jelas arah rasa yang ingin dia capai. Tetapi, demi Tuhan, aku selalu senang dibuatnya. Perutku tak pernah menolak asupannya. Akulah suami yang beruntung.

Akulah suami yang berbahagia.

Istriku tak pintar masak, tetapi dia bisa memasak, dan cerdik dalam memasak. Aku cinta padanya. Puluhan koleksi buku masakan di rumah menjadi pedoman pembelajaran baginya. Tak luput dunia maya acapkali dia jelajahi, berjam-jam, demi mendapatkan jawaban membuat masakan yang penuh selera. Aku cinta padanya. Malam adalah waktu dimana istriku merancang akan makan siang untuk keesokan harinya. Untuk sarapan pagi, tampaknya selalu spontan dia hadirkan. Dan makan malam? Too bad, tidak ada makan malam karena memang kami tidak biasa untuk makan berat di malam hari. 

Aku cinta padanya.

Istriku menjelma menjadi perempuan, menjadi seorang istri. Dia menempatkan dirinya dengan menawan di dalam rumah tangga kami. Mengurus dengan tulus. Menyulam benang-benang merah untuk dirangkai menjadi sebuah pondasi, yang semakin kuat, untuk sekarang dan masa depan. Dia memenuhi kebutuhan sebuah keluarga paling krusial; makan. Dia memberikan kenikmatan dalam hidup. Memberikan kebahagian. Aku terdampar dibuatnya.


<3



          Kepada Kau, Pelabuhan Hati.

Telah lama semuanya aku simpan, dalam hati dan pikiran. Dalam angan, aku membayangkan, tepat pada waktunya kau akan datang. Dan seperti oleh-Nya telah direncanakan, kini kau dalam pelukan. Untuk selamanya, itu yang selalu diharapkan.
Kaulah segalanya. Kaulah dermaga yang aku cari dalam perjalananku. Kaulah jawaban dari semua pertanyaan. Kaulah jawaban dimana happyland somewhere-ku. Aku berlabuh di tubuhmu yang ranum, dan selalu harum, aroma alami yang sangat khas dari halusnya kulitmu. Kuserahkan segalanya untukmu, dan anakmu, yang juga anakku, kelak. Kutitipkan masa laluku yang kurang berkenan untuk kau simpan, dan kau menjaganya dengan baik. Kubukakan pintu kebebasan untukmu, buah dari kepercayaan ku padamu.
Beginilah aku, sayang. Mudahnya aku setelah menemukan kunci yang hilang. Mudahnya api yang membara untuk dibinasakan. Diriku yang kasar ini, penuh emosi ini, dengan gampang kau haluskan. Semudah itu memang aku diluluhkan, oleh kesegala-tahu-an-mu akan keinginanku, oleh kasih sayangmu, perhatianmu, pengertianmu, pengorbananmu, kepercayaanmu. Dan kini kuserahkan seluruh jiwa dan hidupku untukmu.
Maukah kau percaya, sayang, cintaku padamu tak akan pernah padam. Akan kubawa kenangan mu dalam tidurku yang panjang, nanti. Tak akan kulepaskan kau dalam kesedihan. Akan kupersiapkan semuanya untukmu, sayang. Tak akan kubiarkan kau menyesal telah memilihku sebagai nahkoda kapal kehidupan.
Terima kasih, sayang. Kau telah membersihkan kapal yang kotor ini. Kau telah merawat kapal yang usang dengan ketulusan. Aku bisa rasakan itu, karena aku mendengar isak tangis mu di penghujung malam. Karena sayup-sayup aku mendengar sedikit keluhan dalam percakapan dengan para sahabatmu. Karena itu pula aku menganggapmu telah lulus dari semua ujian. Aku menghargai itu, sayang. Tak salah kau dijuluki dewi ketulusan.
Terima kasih, sayang. Terima kasih atas waktu dan jiwamu yang terbuang, untukku.

Tersayang,
Kapalmu yang terdampar


Ryan Adam - Wonderwall