23/08/12

Menikmati Karma




Perlahan, saya mulai menyukai daging kambing.

Sederhana kejadiannya. Belakangan ini tidak sengaja saya bersinggungan dengan kambing. Daging kambing. Yang terakhir saya alami yaitu tempo lalu, disaat saya berkunjung ke dapur teman lama, Widi dan Mia Puradiredja. Mereka menyajikan beberapa potong daging kambing untuk santap siang. "Gila," pikir saya, disaat cuaca Bintaro sedang mengkilap mereka malah asik-asikan menantang panas dengan (daging) panas.

Headline dari jamuan makan siang itu bagi saya adalah di depan muka mereka memperlihatkan bagaimana sangat simple-nya daging kambing diolah. Membuat saya jadi terinspirasi untuk mencoba mengolah daging yang selama ini saya hindari. Maka saya pun coba membuatnya.


2 potong daging kambing
1 sendok teh kunir bubuk
1 sendok the gula halus
1 sendok the garam
2 sendok makan olive oil
Segenggam kecil irisan daun ketumbar
Segenggam potongan kecil bawang bombay merah

250 ml santan kelapa
1 sendok makan bubuk kari
1 sendok makan gula merah bubuk
1 seno makan asem jawa
Segenggam penuh kacang tanah panggang, dicacah

Campurkan bubuk kunir, guka, garam dan olive oil di sebuah tempat, lalu masukan potongan daging kambing dengan membalurnya ke seluruh bagian secara merata. Kemudian simpan di lemari es selama lima menit.
           
Panaskan sebuah wajan datar, beri sedikit saja olive oil, masukan daging kambing. Proses ini sebagai pengganti membakarnya di atas arang. Masak setiap sisinya selama 4 menit atau sampai berwarna coklat di bagian luar dan berwana merah muda di bagian dalam daging.
           
Untuk membuat bumbu kacangnya, panaskan santan kelapa dengan menambahkan bubuk kari, cacahan kacang tanah, gula merah, dan asam jawa. Aduk sampai rata dan berkarakter sangat kental.
           
Sajikan daging kambing dengan irisan daun ketumbar dan bawang bombay merah beserta bumbu saus kacangnya.

Jika ditelaah lebih, sebenarnya olahan ini menyerupai pembuatan sate kambing. Hanya saja, bumbu saus dibuat lebih kental, supaya enak untuk dicolek-colek. Ajaibnya, juicy daging kambing sama sekali tidak lagi membuat saya mual. Ajaib bagi saya tentunya, si anti kambing. Segar, gurih, dan nikmat. Bahkan ketika saya makan tanpa side-dish apapun. Kemana saja, mas, baru bisa menikmati daging kambing sekarang? Note to self. — (P)