16/07/12

Bermartabat Kambing



Konon, kambing memiliki sifat sangat ingin tahu. Jika ada sesuatu yang baru atau asing di lingkungannya, mereka akan cenderung mengeksplorasi. Tidakkah itu sama dengan kita? Mengeksplorasi manusia asing yang baru kita kenal. Mengeksplorasi tampilan dari luar tanpa perlu melihat ke dalam. Mengeksplorasi apa yang manusia asing lakukan dan seberapa hebat yang dia kerjakan. Mengeksplorasi bagaimana kehidupan dia sebelumnya dan hal-hal apa yang tampaknya layak untuk dipergunjingkan.


Semuanya menjadi sangat casual untuk dilakukan.

Kita menyukai kondisi seperti itu, mengeksplorasi. Kita merasa lumrah dengan keadaannya. Kita tahu kita tak mau seperti itu, tetapi kita menutup hati saja, pura-pura tidak tahu bahwa itu sebenarnya tidak perlu ditutupi. Bahwa dengan mengeksplorasi, kita merasakan kepuasan, meskipun tahu jadinya sebuah tindasan. Bahwa dengan mengeksplorasi, kita bisa saling menjatuhkan, merasa menang dengan keadaan, merasa berkibar dengan senyum mengembang. Semuanya kita jalankan dengan kesadaran penuh.


Dengan kesadaran penuh juga kali ini saya berbuat yang tidak-tidak. Saya merasakan kesenangan atas penindasan yang saya lakukan terhadap diri saya sendiri. Memakan kambing yang jelas-jelas bukan primadona, namun kali ini menjadi sebuah drama menawan yang rasanya sulit untuk saya lawan.

Dengan kesadaran penuh saya menumis daging kambing sambil memasukan 1 sendok makan bumbu (sdm) kari bubuk, 1 sendok teh (sdt) paprika bubuk, ½ sdt ketumbar bubuk, ¼ sdt jinten bubuk, ½ sdt merica bubuk dan 1 sdt garam. Lalu saya kocok 3 butir telur bebek, merica, garam, dan menambahkan daging kambing yang telah ditumis beserta irisan ¼ butir bawang bombay serta 2 batang irisan daun bawang. Saya kocok terus sampai membentuk sebuah adonan.

Dengan kesadaran penuh saya siapkan spring roll pastry rangkap dua lalu memasukan sesendok adonan. Melipatnya hingga berbentuk amplop, lalu menggorengnya dengan menggunakan sedikit minyak di sebuah wajan datar sampai berwarna kecoklatan.

Dengan kesadaran penuh, saya mencoba menetralkan rasa daging kambing yang menyengat yang akhirnya terpikirkan untuk membuat acar. Dengan bahan-bahan: 2 sdm soy sauce, 2 sdm rice vinegar, 1 sdm gula bubuk, 1 sdt minyak ikan, ½ sdt cabai bubuk kering, saya campurkan semuanya menjadi satu dalam sebuah wadah. Lalu saya kocok sampai merata dan mengakhirinya dengan memasukan potongan kotak kecil ½ mentimun.

Semua ini saya lakukan demi sebuah martabak. Saya menulan ludah saya sendiri. Merelakan martabat saya dijilati oleh makhluk yang selama ini saya eksplorasi keburukannya. Saya melempar bumerang ke wajah saya sendiri, untuk mengakui bahwa daging kambing itu nikmatnya tidak sekedar biasa. Ini diluar dugaan. Selama ini saya salah menilai. — (P)