18/06/12

Berikanlah Saya Nasi Goreng


Berikanlah saya nasi goreng
dengan telur goreng
Sambal dan kerupuk secukupnya
tambah juga segelas bir

Begitulah penggalan bait dari lagu Belanda berjudul “Geef Mij Maar Nasi Goreng” yang dinyanyikan oleh Wieteke van Dort.

Mendengar lagu lama tersebut di Youtube, pikiran saya bertanya, sepopuler itukah nasi goreng? Sampai seolah-olah lagu itu membawa nafas kerinduan dari seorang Belanda. Pikiran saya pun langsung mengingat kembali kejadian beberapa tahun ke belakang, ketika Obama juga menyatakan kerinduan nya akan nasi goreng.

Ada apa dengan nasi goreng?

Menurut perjalanannya, nasi goreng tercipta dari penggunaan nasi “kemarin sore” yang sudah keras, daripada dibuang-sayang, tercetuslah sebuah pemikiran yang maha kreatif untuk kemudian bisa kita rasakan manfaatnya. Sejarah antah berantah menuturkan”tradisi” ini dibawa oleh kebudayaan Cina. Masuk ke budaya kita yang beraneka, sehingga terapannya pun seolah tak ingin serupa. Banyak beda, banyak rupa, dan banyak rasa pada akhirnya ketika nasi goreng berkembang perjalanannya di negara Indonesia.

Berbagai macam rasa menjadi dinamika bagi perkembangan nasi goreng. Namun inti dari resepnya tetap sama: menggoreng nasi. Mau itu memasukan segala bahan, atau hanya memakai telur ayam saja, ujung-ujungnya tetap memakai nasi sebagai bahan utama.

Sangat mudah dan sederhana untuk membuat nasi goreng, pun anak kecil, saya rasa bisa membuatnya. Dalam setiap rumah maupun jiwa, mereka mempunyai resepnya masing-masing ketika membuat masakan ini. Dan yang menyenangkannya adalah memang tidak ada aturan baku dalam pembuatannya. Mau apapun yang dimasukan dan dicampurkan dengan nasinya itu, bebas-bebas saja, sesuai selera. Tak ayal makanan ini digemari oleh berbagai kalangan. Dari kalangan jelata sampai kalangan kaya, dari kalangan rakyat sampai kalangan pejabat.

Dinikmatinya pun bisa kapan saja. Mau pagi, siang, sore, atau malam, ya, terserah. Makanan ini masuk dalam katagori bebas. Bebas dimakan. Kapan saja, dimana saja. Sakarep na.

Saking bebas nya pun, bisa dipastikan penjual nasi goreng dapat ditemui di setiap sudut mata kita memandang. Dari jalanan sampai restoran gedungan. Keberadaannya sudah sangat merajalela, sehingga tak salah jadinya jika ini menjadi sebuah identik dalam sebuah khasanah kuliner Indonesia. Sampai-sampai orang asing bisa merindukan kelezatan nasi goreng Indonesia.


Dalam pribadi yang seenaknya dewe itu, hasil akhir nasi goreng pun bisa memunculkan dua versi, dilihat dari tingkat kelembekannya si nasi. Ada yang suka memasak nasi goreng dengan kering, ada pula yang senangnya basah, lembek. Namun umumnya di Indonesia sering dijumpai nasi goreng yang kering.

Jika membayangkan nasi goreng yang lembek, saya selalu terpikirkan akan paella. Makanan Spanyol ini rasa-rasanya hampir mirip (hasil akhirnya) dengan nasi goreng lembek. Segalanya ada, dimasukan jadi satu-kesatuan dengan sebuah nasi dalam sebuah wadah.

Lalu kenapa tidak kita coba untuk membuat nasi goreng dengan mengikuti “teknik” yang digunakan ketika memasak Paella. Namun jika saja paella menggunakan beras langsung ketika memasaknya, disini si beras sudah jadi langsung nasi. Penggunaan saffron yang merupakan bahan khas dari masakan paella, digantikan dengan bumbu dasar kuning. Untuk kali ini lupakan sejenak kehadiran telur ayam. Dan tentunya menggabungkan daging-dagingan dengan ikan-ikanan akan menjadi suatu hal yang menarik ketika menyantapnya.

Hasil akhir dari rasa nasi goreng basah ini kaya akan rasa, penuh dengan berbagai bahan segar yang menggiurkan, gurih alami. Dan yang benar-benar menjadi spesial yaitu perbandingannya; nasi 30%, pelengkap 70%. Hahaha.