25/03/12

Tanah Harapan, Penyambung Kehidupan


Siang yang terik adalah anugrah bagi kami yang berjuang di sawah. Bukan kekeringan yang diminta, kami hanya berharap pada sinar, cahaya, beserta suhu udara. Sawah sedang memasuki masa panen. Kami membutuhkan matahari yang agak permanen.

Dan ini baru terpikir, sebuah hal yang semestinya sudah lama dilakukan: menanam palawija. Rasanya seperti ditampar kecil. Itu sebuah hal yang dasar, untuk membagi masa tanaman sebagai keragamanan. Memanfaatkan lahan yang telah melewati masa panen dengan menanam berbagai hal diluar padi sebagai tanaman inti. Supaya tidak selalu pada kuning kami mengabdi, siapa tahu hijau bisa menguasai. Maka saya putuskan untuk coba mengolahnya. Menambah lahan dengan membebaskannya dari tanaman liar dan merambat, menghancurkan segala hal yang nanti dirasa menghambat. Dan siang yang terik (seperti sekarang ini) merupakan waktu yang tepat, supaya tidak ada kendala pada alat berat.

Untuk pengisi rehat dikala waktu yang terus berputar cepat, siang tadi saya membuat Mussels au Gratin. Ide resep yang dilontarkan si pujaansesaat saya harus memutuskan untuk membuat finger food sebagai pengajuan pilihan sajian pada sebuah perencanaan sebuah restoran kecilbeberapa hari lalu. Hanya ditemani potato wedges, sebotol minuman bersoda, serta Tobascountuk keponakan dan adik ipar yang senang lidahnya kepanasansajian ini cukup untuk menambah energi dan kekuatan kami di sore hari. — (P)