28/08/17

Prasangka


· · ·

Mengkudu tidak seperti manusia dalam urusan rupa.


Banyak ditemui manusia tua yang masih rupawan. Masih memikat perhatian. Lekuk wajahnya, karakternya, kekenyalan tekstur kulitnya. Tak ada kerutan di muka, mengeluarkan aura yang masih sedap dipandang. Awet muda, orang sering bilang orang tua yang seperti itu.


Berbeda dengan mengkudu. Hampir semua keelokan di masa mudanya tak terlihat lagi kala buah ini lanjut usia. Mengkudu tua tak pernah ada yang rupawan. Mereka jadi peot, putih-pucat. Kusam, dengan banyak bintik kecoklatan. Tak ada menariknya sama sekali. Baunya pun menyengat. Tidak biasa. Seperti bau jengkol atau pete, punya karakter khusus, yang tak semua orang terbiasa menciumnya. Seperti pesing tapi ada sengatan segar bagi saya ketika menghirup permukaan kulitnya. 

Mengkudu tua tidak akan ada yang molek dan berkulit kencang. Buah tengik ini, mengingatkan saya akan Ayah. Maksimal seminggu dua kali beliau minta disiapkan mengkudu dari Soreang. Kebetulan pohonnya ada disana. Dikirim satpam dengan motor, jus datang ke Bandung. Langsung Ayah habiskan dalam beberapa sedotan, diselangi tahan nafas beberapa saat, untuk menghindari aromanya. Lalu hidangan colenak—yang sengaja selalu disiapkan juga—langsung beliau lahap segera. Untuk menyeimbangi after taste pahang dan kesat di mulut dan teggorokan, katanya.

Begitu kebiasaan Ayah kala menikmati jus mengkudu. 

Terlihat seperti terpaksa untuk meminumnya. Tetapi beliau sadar akan manfaatnya. Begitu besar pengaruh mengkudu untuk kebugarannya. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Karena pekerjaan luar lapangan menjadi salah satu hobi beliau.

Aktifitas minum jus Ayah ini masih jadi pergunjingan di keluarga besar kami. 

Membayangkan rasanya masih selalu jadi misteri. Kedatangan jus mengkudu, horor bagi kelima orang anaknya beserta cucu-cucunya. Ibu saya pun emoh untuk sekedar pegang juice cup-nya, haha. Geli sendiri sebenarnya drama menahun yang diciptakan mengkudu di keluarga kami.


Selama ini juga saya tak mau bersentuhan dengan mengkudu. Saya masih menilai rupa. Dilupakan, untuk menilai sendiri dulu saja rasa, tanpa harus mengenalnya. Saya jadi seolah menolak ragam pemberiaan Tuhan. Pandangan keberagaam acapkali tak sadar di tutupi sendiri dengan membangun segera perisai di depan. Mengkudu dipergunjingkan. Kami mengolok, menebak-nebak keburukannya.

Sampai akhirnya, serampangan saya nekat untuk mencoba. Alasan utamanya, ya untuk kesehatan. Kondisi badan saya sedang rentan dalam runtun waktu sekarang. Saya coba cari cara bagaimana mengkudu ini bisa saya terima dengan anggun. Apik, sopan masuk ke dalam mulut. Harus halus, supaya mulus perkenalannya. Itu skenario sekaligus strategi yang sedemikian rupa sudah saya rancang.

Dan sampailah saya menemukan konsepnya.

Hancurkan mengkudu yang sudah tua dengan cara apapun. Diperas dengan tangan kosong, atau ditumbuk di dalam cocktail shaker. Beri air mineral atau es batu. Kemudian aduk, atau kocok. Saring dengan strainer. Wadahi sarinya. Buang bijinya, sertakan ampasnya untuk mendapatkan tekstur. Boleh-lah memakai sedikit madu, untuk nanti diaduk saat sedang meminumnya.

Berburuk sangka lagi, saya. Kali ini kepada buah mengkudu. Setelah mencicipi rasanya di tegukan pertama, sekejap, langsung hilang prasangka rasa yang selama ini menjadi momok keluarga. Menebak-nebak keburukan, malah makin menjerumuskan kami ke dalam pergunjingan.


Saya merasa banyak menghabiskan waktu dengan percuma, jadinya. Memikirkan kerikil, menjadikan saya kerdil. Malu. merasa dosa atas nama sendiri dan keluarga. Prasangka selalu membayangi kami, manusia. Dampak dari prasangka menjadikan kami cari-cari kesalahan dan kejelekan orang. Energi banyak terbuang.

Rupa-rupanya, perbedaan rupa, ternyata, selalu ada dalam pandangan kehidupan kita, keluarga, satu darah. Bagaimana jika ini memang masih terjadi dalam satu negara, yang bersuku-suku. Satu bangsa. That's lame brothers.  — (P)


· · ·